Tes remidial di SD, SMP, dan SMA salah kaprah

Kunjungilah posting yang berkaitan:

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

https://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

https://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

https://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

https://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

https://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

https://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

https://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

https://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Tag: , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Tes remidial di SD, SMP, dan SMA salah kaprah”

  1. Tutuk Toto Carito Says:

    Saya setuju UN dihapuskan saja. Semua itu hanya membuat setres adik-adik saya. Memang seharusnya penilaian gurulah yang amat penting.

  2. S Belen Says:

    Mas Tutuk, jika UN dihapuskan banyak guru PNS akan ‘tidur’ karena tak ada lagi yang ditakuti. Tak ada faktor penggertak bagi para guru. Kasus Papua dan provinsi lain: lulusan SD langsung ke SMP setelah UN SD dihapus. Banyak siswa yang mengikuti UN ternyata belum bisa membaca dan menulis dengan benar. Jika UN dihapus guru sekolah swasta bisa tetap mengajar dengan baik karena faktor kontrolnya adalah orang tua siswa. Untuk sekolah negeri, faktor kontrol itu tak ada. Mau anak pintar atau bodoh bagi guru itu tak soal karena gajinya tetap dibayar.

    Masalahnya adalah kurikulum berbasis kompetensi dan proses belajar-mengajarnya belum match dengan model UN. Yang satu berciri mendorong siswa berpikir divergen dan menganut soft pedagogy (pedagogi yang ramah kepada siswa), UN masih berciri konvergen (satu jawaban benar) dan menganut hard pedagogy (memvonis siswa yang tak lulus). Dulu saya usulkan diterapkan tes terstandar seperti di Inggris, AS, dan Australia agar kelemahan siswa langsung diperbaiki, jangan tunggu waktu UN. Dalam UN hanya dinilai kompetensi siswa yang bisa dinilai melalui paper and pencil test dan tidak menjadi vonis terakhir. Harus dihitung juga dengan hasil penilaian kelas yang dilakukan guru. Bobot untuk keduanya diatur. Sertifikat kelulusan memberikan gambaran posisi siswa dalam rentang cakupan berbagai kompetensi per mata pelajaran. Ada siswa yang hebat dalam matematika tapi lemah dalam sejarah. Ada siswa yang hebat dalam olahraga tapi lemah dalam kesenian. Sertifikat memberikan gambaran profil kompetensi siswa. Dengan cara ini, semua siswa harus dinyatakan tamat belajar, tak ada yang dinyatakan tak lulus. Inilah prinsip soft pedagogy yang dianut kurikulum berbasis kompetensi.

    Untuk meyakinkan decision makers memang perlu waktu. Sejak 1983 saya usulkan bahasa Inggris dimasukkan ke dalam kurikulum SD. Semua orang menertawakan dan menentang ide saya. Sekarang malah sejak SD bahasa Inggris dapat digunakan sebagai bahasa pengantar. Untuk menghapus kecurangan dalam UN sebenarnya gampang. Terapkan saja open book test. Boleh buka buku waktu UN. Pertanyaannya hanya bisa dijawab melalui penalaran, bekal pengetahuan, dan pengalaman yang diperoleh selama proses belajar-mengajar. Ide saya terkadang memang dianggap gila tetapi tanpa berpikir gila persoalan pendidikan di tanah air tak akan menemukan solusinya. Mudah-mudahan nggak jadi gila benaran ya. He he he. Mas Tutuk, saya baru sadar waktu di Cambridge Inggris tahun 1987. Ternyata semua orang gila di Inggris itu pintar-pintar. Temanku bertanya mengapa? Ya jelaslah, omongan bahasa Inggrisnya lancar sekali, lebih lancar dari dosen bahasa Inggris di Indonesia! He he he.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: