Bagaimana jika kita kontrak presiden dari negara lain untuk 2009?

Kata Edward De Bono berpikir kreatif bukanlah berpikir lurus-linier tapi berpikir menyamping-lateral.

Ada juga yang mengatakan, jika Anda ingin menelurkan gagasan kreatif, cobalah berpikir terbalik (think the opposite) sambil mengatakan ”mengapa tidak?” (Why not?). Dengan cara berpikir menyamping, terbalik, dan bila perlu berpikir ”menggurita” seperti yang kini dipopulerkan Tony Buzan dengan ”mindmapping” . Buatlah peta pikiran Anda yang liar seperti bola bergulir ditendang ke kiri, kanan, menyilang, mendatar, melambung, dan akhirnya gol. Tercapailah tujuan. Efektif dan efisien.

Berpikir sampai kepala pening tentang ujung-ujungnya kampanye pemilu 9 bulan ini, kita jadi bingung. Mau pilih calon presiden recycled ya jangan-jangan nanti kita salah pilih. Mau pilih calon presiden tebar pesona, eh nanti salah lagi. Mau pilih orang muda, ya susah juga karena biar muda tapi pikirannya tua, atau malah lebih tua dari presiden recycled dan presiden tebar pesona.

Anehnya, kita (baca elit politik) kok terseret berpikir seolah-olah pemilu presiden akan mengakibatkan perang baratayudha, hidup atau mati, to be or not to be. Bayangkan kalau sekarang saya tetapkan koruptor bisa dihukum tembak, jangan-jangan selepas berkuasa malah saya yang ditembak. Senjata makan tuan dah! Mau saya galakkan KPK agar benar-benar galak, jangan sampai sehabis masa jabatan malah saya yang diburu dan ditangkap KPK. Alur dan arah serta arus berpikir masyarakat ini sudah pastilah membuat 9 bulan ini kita sebagai bangsa tidak produktif. Bagaimana bisa produktif kalau waktu selama itu kita boros energi, uang, harta-benda, dan waktu tidur hanya untuk saling menjelek-jelekkan, memfitnah, bersumpah serapah dengan kemasan membangun image, mengorkestra citra?

Bertolak dari hiruk pikuk opini publik dan opini kepala pening, saya mencoba berpikir menyamping-menyimpang, terbolak-balik, dan menggurita ke berbagai arah. Daripada pusing, bagaimana kalau kita hire alias menyewa, tapi lebih kerennya mengontrak dengan bayaran amat tinggi calon dari negeri lain menjadi presiden satu periode saja, mulai dari 2009 sampai 2014. Sesudah itu baru kita pilih lagi presiden anak bangsa. (Terima kasih kepada Ibu Noor Indrastuti yang melemparkan ide dan Pak Wahyudi yang mengusulkan seorang tokoh yang diburu Amerika, dan Pak Lambas yang kritis menggugat gagasan dalam diskusi makan malam kita).

Ini cara berpikir membenahi sebuah perusahaan yang bakal bangkrut. Daripada bangkrut CEO-nya kita kontrak saja untuk satu periode dari perusahaan lain dari luar negeri yang menjanjikan perubahan yang lebih pasti berhasil. Atau seperti klub-klub sepak bola nasional dalam Euro Cup yang lalu. Pelatih kesebelasan nasional Belanda Marco van Basten bersaing dengan pelatih kesebelasan nasional Rusia asal Belanda Gus Hiddink. Rusia menang. Nasionalisme Gus Hiddink kan tak dipersoalkan rakyat Belanda. Yang jadi dasar penilaian adalah profesionalisme.

Bagaimana kalau kita kontrak saja Barrack Obama menjadi presiden Indonesia? Obama kan pernah jadi ”orang Indonesia” yang tulus dan polos waktu menjadi siswa SD di Jakarta.Tapi, relakah rakyat Amerika? Masa’ rakyat Amerika mau melepaskan ”presiden”-nya yang menjanjikan masa depan Amerika yang cerah! Tapi kalau Obama setuju, mengapa tidak?

Barrack Obama (www.scottthongfiles.wordpress.com

Barrack Obama (www.scottthongfiles.wordpress.com)

Atau, bagaimana kalau kita kontrak saja Lee Kuan Yew? Beliau kan terbukti membawa Singapura menjadi negara maju. Apalagi beliau kan sudah berpengalaman menjadi penasihat presiden kita. Tapi, beliau kan sudah tua? Tapi pikirannya kan masih muda! Dan, jika beliau mau, mengapa tidak?


www.uploadwikimedia.org)

Lee Kuan Yew (Sumber: http://www.uplodadwikimedia.org)

Eh, yang lebih dekat kan Anwar Ibrahim. Beliau kan sama melayu dengan kita, hanya kebetulan lahirnya di negeri jiran. Tapi, apakah Anwar Ibrahim mau? Kan namanya politik, satu langkah lagi beliau bisa menjadi Perdana Menteri Malaysia. Tapi, kalau Pak Anwar mau, mengapa tidak?

Anwar Ibrahim (www.aldittablogspot.com)

Anwar Ibrahim (www.aldittablogspot.com)

Namun, andaikan setelah tawaran kita ajukan kepada ketiga calon dan ternyata ketiganya sama-sama setuju, kita buat kampanye pemilu presiden tersingkat di dunia. Hanya satu minggu! Kampanyenya amat sederhana dengan biaya amat murah. Kampanye melalui debat di televisi. Itu saja.Tak perlu ada KPU. Lalu, pemilu diselenggarakan dengan mengirim SMS, email,dan surat. Penghitungannya benar-benar Quick Count! Langsung kita punya presiden yang menjanjikan masa depan cerah sekaligus mencatat sejarah memilih presiden dari negara lain secara demokratis tulen-murni. Dan, tercatatlah nama Indonesia dalam Guiness Book of Records!

Ah, mungkin ada yang bilang saya berkhayal. Republik mimpi. Tidak mungkin. Tidak bisa. Jawaban saya adalah banyak penemuan spektakuler, lebih banyak terobosan, dan amat banyak keberhasilan di dunia ini dimulai dari pertanyaan why not, mengapa tidak? Kalau Anda setuju dengan gagasan ini, apakah Anda punya calon yang lebih baik dari tiga calon yang kami usulkan?


Tag: , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Bagaimana jika kita kontrak presiden dari negara lain untuk 2009?”

  1. Singal Says:

    Iya mengapa tidak, termasuk jaksa dan hakimnya sekalian pak, juga para auditornya…hehehe…

  2. S Belen Says:

    Horas terima kasih, Pak Singal. Benar-benar ide cemerlang. Temanku tambahkan, sekalian seluruh kabinet dan jajarannya kita kontrak dari negara mana saja yang berminat. Kita maklumatkan secara terbuka dan transparan kepada dunia, siapa saja yang melamar, dan kita tinggal seleksi. Hasilnya pasti hebat karena kita pilih manusia-manusia di bumi ini yang paling potensial hebat. Tak perlu tim sukses. Murah, meriah. Dan, lengkaplah kita menjadi bangsa hamba sahaya. Oh, Tuhan, mengapa, oh mengapa…

    Tapi, kita percaya sajalah Pak Singal, tiada hujan lebat dan badai yang tak akan berhenti. Tak ada angin topan yang tak akan berakhir. Let’s believe, that there will be light at the end of the channel tunnel. Marilah percaya, bahwa pasti akan ada cahaya pada ujung terowongan.

  3. ariesmusnandar Says:

    Saya juga pernah menulis tentang ide ini yang dimulai dari Gubernur DKI terlebih dulu baru setelah itu Presiden…..tetapi tulisan yang saya kririm itu tidak dimuat Koran sebagaimana biasanya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: