Berilah hak bicara kepada anak

Sssst!

Siapa yang sering melakukan hal seperti terlihat pada gambar ini? “Diam!” “Jangan bicara!” “Tutup mulutmu!” “Jangan berisik!” “Jangan ribut!” Kata-kata ini akan terlontar jika gerak tangan menyuruh diam itu tidak berhasil.

  1. Apakah guru yang suka berceramah? Yang berpendapat bahwa mengajar sama dengan berbicara? Atau, kalau tidak berbicara berarti belum mengajar?
  2. Apakah pengkotbah yang berpendapat bahwa tugasnya adalah berbicara dan berbicara berarti menasihati, menakut-nakuti atau mengancam dengan api neraka dan menjanjikan tempat yang layak di surga?
  3. Apakah orang tua yang cenderung melarang, yang mengucapkan kata “jangan”, “tidak boleh”, atau kata senada lainnya sekitar 100 kali dalam sehari kepada anaknya?

Bagaimana anak kita bisa berani berbicara, melakukan hak asasi anak untuk mengungkapkan pendapatnya, jika guru, orang tua, dan pengkotbah lebih sering melarang daripada mendorong anak mengekspresikan dirinya?

Dampak jangka panjang apa yang akan terlihat dalam diri anak tatkala dewasa? Menjadi:

  • manusia pasif?
  • manusia suka ikut arus?
  • “yes man” atau “yes woman”?
  • manusia yang tak suka mengambil inisiatif?
  • manusia yang kurang kreatif?


Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: