Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kabupaten Belu’

Seorang bapak 100 tahun yang lalu

Maret 31, 2012

Tahun 2008 waktu saya kunjungi alma mater-ku Seminari Lalian (SMP & SMA), sekitar 10 km dari Kota Atambua (ibu kota Kabupaten Belu) di perbatasan antara Timor Barat dan Timor Leste dan di hadapan kepala sekolah dan para guru, kuceritakan satu ilustrasi berikut ini.

 

Adalah seorang bapak, orang Belu yang telah meninggal 100 tahun lalu dan kini diizinkan Tuhan meninggalkan surga, hidup kembali dan boleh pesiar-pesiar di dunia, berkunjung sejenak ke Belu dan nanti setelah puas boleh kembali ke surga.

 

Sesampai di Atambua, ia heran melihat kok ada kendaraan roda dua yang bisa berlari kencang. Ia tanya kendaraan apa ini. Orang menjelaskan, ini namanya sepeda motor. Oh, katanya, dulu saya hanya tahu naik kuda yang berjalan pelan-pelan. Dari Belu Selatan ke Atambua, saya bawa hasil bumi dipikul kuda dan terpaksa bermalam di bawah pohon beringin di Lalian, lalu besoknya baru bisa terus ke Atambua. Waktu melihat ada kendaraan berlari kencang dengan 4 roda, ia bertanya, ini kendaraan apa? Jawab orang, oh itu namanya oto, kalau di Jawa dibilang mobil.

 

Ia heran melihat rumah-rumah batu begitu banyak di Atambua, termasuk hotel bertingkat 3. Ia heran melihat katedral yang megah. Dulu 100 tahun yang lalu kita cuma beribadah di kapela seperti gubuk berdinding bambu dan beratap alang-alang. Ia heran melihat jembatan beton di atas kali, padahal dulu kudanya harus menyeberangi kali termasuk waktu banjir. Ia mampir ke bandara Haliwen dan melihat kok ada burung besar bisa terbang dan mendarat, lalu bisa berlari kencang dan terbang. Dia Tanya burung besi apa ini. Jawab orang oh, itu pesawat udara, kapal terbang. Ia pergi juga ke rumah sakit dan terheran-heran melihat alat ronsen, kamar bedah, dan apotek. Dulu kita cuma tahunya berobat ke dukun, pakai ramuan herbal.

 

Tiba-tiba ia teringat sekolah dasarnya dulu. Ah, pingin lihat, bisa nostalgia mengenang guru-gurunya. Dari jendela ia memandang ke dalam kelas. Gurunya masih menulis di papan tulis dengan kapur sambil menerangkan seperti orang berteriak kepada murid-murid. Ketika guru bertanya, anak-anak berlomba angkat tangan, tunjuk jari untuk menjawab. Di akhir pelajaran, gurunya memberi PR. Sontak ia berujar. Di tanah Belu ini semuanya berubah, jalan-jalan diaspal, jembatan beton dipasang, ada sepeda motor, oto, kapal terbang, rumah sakit. Katedral megah menjulang. Hanya satu yang masih tetap sama dengan waktu 100 tahun lalu, yaitu SD saya, cara mengajar guru masih sama dengan yang dulu. Belum berubah.

 

Jika Anda ingin membaca posting ini dalam bentuk file powerpoint, silahkan klik!

Seorang bapak 100 tahun lalu

Apa yang harus diubah? Silahkan kunjungi posting ini!

 

http://sbelen.wordpress.com/2012/03/31/sejauh-mana-telah-terjadi-transformasi-pendidikan-di-indonesia/


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.