Archive for the ‘Puisi’ Category

Easter Poem by Ulil Abshar-Abdalla, an Islamic scholar & activist

April 28, 2011

Here is a poem written by Ulil Abshar-Abdalla, an Islamic scholar from Indonesia affiliated to Jaringan Islam Liberal (Liberal Islam Network), a group which voices out a liberal interpretation of Islam.

After completing his master’s degree in religion in Boston University, he went on and continued his PhD studies in the Department of Near Eastern Languages and Civilizations, Harvard University.

In 2003, a group of Indonesian Islamic cleric from Forum Ulama Umat Islam issued a death fatwa against Ulilfor an article that Ulil wrote in Kompas in 2002, “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” (Rejuvenating the Islamic Understanding) that is considered heretical by the clerics. In March 2011, a letter bomb addressed to Ulil at Komunitas Utan Kayu exploded, injuring a police officer.

Ulil also defended the right of the Ahmadi people, which is an uncommon stance within conservative Islam. He also opposes many of fatwas by Majelis Ulama Indonesia, such as the one forbidding to give Christmas greetings to Christians.

Source: //en.wikipedia.org/wiki/Ulil Abshar Abdalla

Please read his Easter Poem, translated from the original in Bahasa Indonesia!

Easter Poem

By Ulil Abshar-Abdalla

He who collapsed,

on the holy virgin’s lap,

resurrected after three days, against death.

He who was weak,

revived an impossible expectation.

He who is the weakest,

His body bears our sufferings.

***************************

He who is the weakest,

His suffering conquers kings of the world.

He who falled in love with morning,

after being stoned painfully.

He who looked up to the holy sky,

swathed in scarlet red cloth: Love me, please!

****************************************

They argue

about who died on the wooden cross.

I’m not interested in the debate of theologians.

It is the pouring blood which strongly touches me.

When I boast my faith,

The painful body lying on that wood,

keeps reminding me:

In fact, He also suffers, with the insulted.

************************************

My Mohammed, your Jesus, your Buddha, your Krisna, your Confucius,

they all are my teachers,

who teach me about the vastness of the world, and love.

*************************************************

Your disease, O believers:

You easily become complacent, arrogant,

boasting yourself like a peacock.

You are eager to judge!

*********************

The body with the pouring blood on that wood,

is not a peacock.

He teaches us, about love,

for those who are misled and insulted.

**********************************

Suffering sometimes teaches you

about a humble faith.

The letters in the scriptures,

often make you feel you are the only holiest person.

**********************************************

Yes, your Jesus is also my Jesus,

Ha has saved me from a faith,

which is arrogant and too proud.

He makes me love the insulted!

****************************

(Translated by S.Belen)

Source: http://www.facebook.com/?ref=hp#!/notes/peduli-yasmin/puisi-paskah-oleh-ulil-absar-abdala/192794757426557

Puisi Paskah

Oleh : Ulil Abshar-Abdalla

Ia yang rebah,
di pangkuan perawan suci,
bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah,
menghidupkan harapan yang nyaris punah.
Ia yang maha lemah,
jasadnya menanggungkan derita kita.

Ia yang maha lemah,
deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi,
setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci,
terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku!

Mereka bertengkar
tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku,
tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu,
terus mengingatkanku:
Bahkan, Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu,
mereka semua guru-guruku,
yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah,
jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu,
bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta,
untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu
tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci,
kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman,
yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Iklan

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

 

Gambar spanduk Sano

Aneka khasiat SANO

Mama tiri Jakarta

Maret 23, 2011

 

 

Oleh Agustinus dawarja

 

Kau kejam mama
Kau didik dan melatih anak kampuang
Melupakan kampuangnya

Kau kejam memang
Kau ambil semuanya
Bukan saja sumber daya anak petani
Cita-cita mereka pun kau ubah
Kau ciptakan anak-anak petani menjadi monster bagi ayah dan ibunya

Ah…mama tiri Jakarta
Aku hanya menangis….
Betapa kau kejam melatih sisi ekonomi sebagai satu-satunya sisi kehidupan
Entah mengapa anak-anak desa itu begitu kejam dan rakus memakan kampuangnya

Ya kampuangnya
Kampung yg telah mendidik dan menjadikan mereka besar
Ganas memakan ibu kandungnya sendiri
Jakarta
Ke Jakarta kau mati….jangan kau matikan induk semang ibu kandungan anak petani

 

 

 

 

 

 

 

 

Doa seorang penambang batu bara bagi semua penambang

Maret 21, 2011

Tiap hari, di seluruh dunia ada orang-orang baik laki-laki maupun perempuan yang mempertaruhkan hidupnya dalam risiko amat berbahaya untuk memanen batu bara dan komoditas lain yang membuat hidup Anda kian cerah dan menyediakan sekian banyak “keperluan” hidup.

Marilah kita luangkan satu menit untuk mengenang mereka di seluruh dunia yang telah memberi hidupnya sewaktu bekerja di dalam, bukan hanya pada tambang batu bara, tapi pada semua lubang aneka-jenis tambang yang lain.

Penambang mangan di Timor

Penambang mangan bersama anaknya di Timor

Lihatlah tangan-tangan ini, Tuhan,

Semuanya tercabik dan kasar.

Wajahku menakutkan dengan kotoran batu bara

Bahasaku keras

Tapi, Dikau tahu dalam hati, Tuhan,

Bermukim jiwa seorang manusia

Yang berjuang mencari nafkah

Yang hanya segelintir orang mampu lakukan

Sulfur dan debu batu bara

Dan keringat di keningku,

Agar hidup seperti seorang kaya,

Yang tak pernah belajar caranya

Tapi, jika engkau sampai ke satu sudut

Ketika kerjaku diselesaikan,

Aku mungkin bangga hidup

Bertetangga denganmu.

Tiap subuh ketika aku bangun, Tuhan,

Aku tahu semuanya baik…

Aku hanya hadapi satu hal:

Sebuah lubang neraka

Untuk menggaruk demi hidup

Yang terbaik yang aku bisa

Tapi di dalam hati ini

Bermukin jiwa seorang manusia

Dengan sapuan wajah hitam

Dan tangan-tangan kasar tak berperasaan,

Kami merambah lorong-lorong gelap,

Untuk memulai pekerjaan kami

Bekerja membanting tulang

Tatkala kami memanen batu bara

Kami berdoa dalam sunyi,

Tuhan, panenlah jiwa-jiwa kami

Hanya di satu sudut dalam Surga

Ketika aku menjadi terlalu tua

Dan punggungku tak dapat digerakkan, Tuhan,

Untuk mendorong batu bara

Angkatlah aku dari lubang, Tuhan.

Di mana mentari tak pernah bersinar,

Karena mungkin letih

Di bawah sana di lubang tambang.

Tapi mungkin itu aku, Tuhan.

Walau tiada kekayaan yang aku tunjukkan,

Walau capek dan letih.

Aku hanya ingin tahu

Ketika Segel Besar dihancurkan

Halaman demi halaman akan menceritakan

Bahwa aku telah menggunakan

Waktuku di neraka.

Oleh  Margie McAlaster

http://www.topix.com/forum/business/mining/T3Q10KF6MHPJLJFG3

Aktivitas pertambangan di NTT di bawah payung izin kuasa tambang tanpa meminta persetujuan penduduk lokal dan tanpa amdal

Para pemilah mangan di Manggarai, Flores

Para penambang mangan di Timor yang tidak memakai kacamata, sarung tangan, dan topi pelindung, bahkan mengikutsertakan anak tanpa menyadari risiko bahaya aneka-penyakit.

Iklan

bacon

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Sano jantung koroner

Kartu nama Yuni 2

Pujian bagi opa tercinta

Juli 20, 2010

Opa Medon & Oma Timu

Tanggal 5 Juni 2010 Opa Medon Lawotan wafat pada usia 80 tahun di Wailebe, Adonara, Flores. Pada tanggal 15 Juli 2010 Opa Pater Yan Lali wafat pada usia 92 tahun di Jakarta. Untuk mengenang jasa kedua opa ini, kami persembahkan puisi ini bagi kedua opa yang telah berbuat baik bagi banyak orang semasa hidupnya melalui profesi masing-masing dengan caranya sendiri.

Eulogy for My Grandfather

God saw you getting tired
And a cure was not to be,
So He put His arms around you
And whispered “Come with Me.”
With tearful eyes we watched you suffer
And saw you fade away.
Although we love you dearly,
We could not make you stay.
A golden heart stopped beating,
Laying loving hands to rest.
God broke our hearts to prove to us
He only takes the best.
(Anon.)

Sumber: http://www.vikingkarwur.com/blog/archives/general/index.php

Pujian untuk Opaku

Tuhan melihatmu kian capek

Dan ketika pengobatan sudah tak memungkinkan

Maka Ia merangkulmu dengan lengan-lenganNya

Dan berbisik “Datanglah bersamaKu.”

Dengan linangan air mata kami menyaksikan engkau menderita

Dan melihatmu pergi untuk selamanya.

Walau kami amat mencintaimu,

Kami tidak dapat menahanmu tetap tinggal.

Sebuah jantung emas berhenti berdetak,

Dengan tangan-tangan kasih yang terkulai beristirahat.

Tuhan menyakiti hati kita untuk membuktikan kepada kita

Ia hanya mengambil yang terbaik.

(Anonim)

Laki-laki itu burung … Wanita itu burung …

Mei 18, 2010

Membaca puisi pada bagian akhir posting ini membuat kami berefleksi soal burung, membuat pertanyaan tentang burung.

Maukah kita …?

Maukah kita menjadi burung hantu yang semakin banyak melihat semakin sedikit berbicara dan semakin sedikit berbicara semakin banyak mendengarkan?

Maukah kita menjadi burung beo yang semakin besar semakin cerewet dan semakin cerewet semakin menyebalkan?

Maukah kita menjadi burung walet yang semakin banyak semakin beribut dan semakin beribut semakin banyak membuang ludah dan semakin banyak membuang ludah semakin kaya yang empunya burung?

Maukah kita menjadi burung kakatua yang semakin tua semakin menarik jambulnya dan semakin menarik jambulnya semakin banyak jagung yang dimakan dan semakin banyak jagung yang dimakan semakin membuat petani menderita?

Maukah kita menjadi telur burung puyuh yang semakin kecil semakin banyak gizinya dan semakin banyak gizinya semakin menyehatkan anak manusia?

Maukah kita menjadi burung pelikan yang semakin banyak ikut berbaris semakin kompak jalannya dan semakin jauh terpisah dari barisan semakin bingung hendak berjalan ke mana?

Apakah laki-laki itu burung …?

Lukisan Kahlil Gibran

Apakah wanita itu burung …?


Apakah laki-laki itu burung hantu yang hanya berbicara 25 ribu kata dalam sehari sedangkan wanita itu burung beo yang berbicara 50 ribu kata dalam sehari? Dua kali lipat dari burung hantu?

Apakah wanita itu burung cendrawasih yang jika tersenyum sayap-sayapnya mekar memperlihatkan warna-warni sayap yang mempesona sedangkan laki-laki itu kelelawar yang suka makan buah-buah ranum lalu meninggalkannya tersobek dan terluka?

Apakah laki-laki itu burung rajawali yang gampang tertembak sedangkan wanita itu burung gereja yang sulit tertembak?

Apakah wanita itu burung pelikan yang rela memberikan darah kepada anak-anaknya dengan mengorbankan nyawanya sedangkan laki-laki itu burung bangau yang hanya berdiri dengan satu kaki tapi mudah mencaplok ikan-ikan kecil di laut dangkal?


Apakah laki-laki itu burung puyuh yang jika diburu larinya kencang dan tiba-tiba menghilang entah ke mana sedangkan wanita itu burung pipit yang terbang ke dalam kamar tanpa takut ditangkap karena keluguannya?

Ikutilah kisah nasib burung berikut ini!

TANPA  JUDUL 201

Oleh Martin Bhisu

Bernyanyilah kepada hatiku
burung-burung di menara hotel,melepas rindu
kembali ke lembah dan ngarai, habitatmu seperti dulu
tapi selalu kau tinggalkan lagu yang sama di hatiku, nada sendu.

Burung-burung apa yang bernyanyi di sana?
Tutuplah mulut mereka!
yang menyayat hati dengan gundah gulana
tak tahan lagi, bait-bait lagu yang mengiris sukma.

Kian lama nyanyian mereka memenuhi hidup memelas
seperti titik-titik air yang perlahan jatuh kedalam gelas
tumpah ruah, membasah, tak mengalir deras
tapi nyanyian itu semakin lama semakin keras.

Dan aku turut bernyanyi
lagu yang lunglai
hingga hati tak terurai
terlebur dalam nyanyian burung berderai.

Nyanyian penyesalan jatuh di tanah
amukan diriku tanpa gairah
entah bernyanyi, entah berpasrah
bertekuk lutut, pun maju selangkah.

Burung-burung berkicau, menangis
burung-burung menangis, airmata gerimis
hati yang lumpuh, menepis
rindu kembali ke gunung terkikis.

Guayaybi, PARAGUAY, 23 de abril de 2010.

Ganti sistem ujian nasional dengan menerapkan sistem open book test dan tes terstandar

Mei 8, 2010

Sistem ujian nasional kita hanya menjatuhkan sanksi tidak lulus kepada siswa tapi para guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan provinsi, dan kabupaten / kota serta ketua yayasan pendidikan swasta terbebas dari sanksi.

Tiap anak dilahirkan dengan potensi otak menjadi manusia brilyan. Namun, cara mengajar dan mendidik guru yang kuno dan satu arah mengakibatkan siswa hanya duduk, dengar, catat, dan hafal. Sistem ujian nasional kita justru mendukung cara mengajar kuno ini melalui penggunaan model soal pilihan ganda yang kurang mendorong kreativitas berpikir dan kemampuan memecahkan masalah.

Di dunia ini tidak ada masalah belajar. Yang ada adalah masalah mengajar. Mengapa yang salah mengajar dan mengelola pendidikan tidak terkena sanksi apa pun. Mengapa hanya siswa yang menangis malu dan histeris lalu pingsan mendengarkan namanya termasuk dalam daftar peserta yang tidak lulus diberi sanksi tidak lulus? Adilkan ini?

Sistem ujian nasional sebenarnya mudah sekali diubah untuk menghindari tim sukses yang terdiri dari guru dan kepala sekolah serta pengawas memberikan jawaban kepada siswa setelah soalnya dikerjakan pendidik itu. Atau, siswa mendapatkan bocoran soal sebelum ujian nasional. Pakai saja bentuk soal uraian atau esai. Siswa diperbolehkan membawa buku pelajaran dan membukanya, juga rumus-rumus Matematika dan Fisika. Jika soal esai  yang disusun menuntut penalaran siswa, walaupun ia membuka buku pelajaran dan rumus tak ada gunanya ia membuka buku  karena tuntutan penalaran untuk menjawab soal. Mudah sekali, bukan?

Alternatif solusi yang lain adalah menerapkan tes terstandar (standardized test) yang juga dipakai di Amerika Serikat dan Inggris. Di tengah semester atau setelah satu semester atau satu tahun, di kelas-kelas tertentu di SD, SMP, dan SMA siswa diwajibkan mengerjakan tes terstandar yang dikerjakan dan diterbitkan serta didistribusi Pusat Penilaian Pendidikan Nasional Balitbang Kemdiknas. Dengan memeriksa hasil tes ini, guru dapat mendiagnosis kelemahan siswa dan selanjutnya melakukan perbaikan dalam proses belajar-mengajar.

Pada akhir tiap jenjang SMA siswa mengikuti ujian nasional namun tiap siswa diberi kebebasan memilih mengikuti ujian mata pelajaran yang dia kuasai dan sesuai dengan rencana studinya di perguruan tinggi. Ujian nasional ini hendaknya terdiri dari ujian tulis dan praktik. Jika ia ingin masuk fakultas kedokteran misalnya, ia hanya memilih mengikuti ujian mata pelajaran Kimia, Biologi, dan Matematika. Jika ia ingin masuk fakultas teknik, ia hanya ikut ujian Fisika, Matematika, dan mungkin Bahasa Inggris. Jika ia ingin masuk fakultas sastra, program studi sastra Inggris, ia hanya memilih ikut ujian mata pelajaran Bahasa Inggris, Sejarah, dan Antropologi atau Sosiologi. Dengan mengantongi nilai kelulusan mata-mata pelajaran tertentu ini, lulusan SMA langsung diperbolehkan mendaftar di perguruan tinggi. Apa susahnya sih menempuh alternatif solusi ini?

Karena konsep kita soal UN ini tidak matang dan tidak cerdas, tiap tahun kita saksikan tragedi siswa merasa gagal, kasus pembocoran soal dan jawaban, dan sederet masalah yang membuat siswa merasa trauma dan konsep kegagalan telah kita tanamakan dalam hati sanubarinya. Karena kita kurang cerdas berpikir, tiap tahun tak kunjung berhenti polemik tentang relevan atau tidak relevannya ujian nasional dipertahankan. Jika kami amati betapa susah dan keteter Mendiknas menjawab gugatan anggota DPR dan pertanyaan wartawan. Demikian pun, anggota DPR juga dibuat pusing mempersoalkan sistem ujian yang diskriminatif ini. Seharusnya think tank di Kemdiknas-lah yang mencari solusi yang tepat untuk memperbaiki sistem ujian nasional yang buruk ini. Namun, tampaknya tidak ada think tank itu. BSNP juga bingung hendak berbuat apa dan daripada memikirkan solusi yang lain, lebih baik jalankan sistem yang rutin. Sampai kapan kita terkurung dan tersandera oleh pola pikir konvensional ini?

Sebenarnya, contoh yang baik dari berbagai negara sudah ada. Kita tinggal belajar dari negara-negara itu. Tahun ini India mereformasi sistem ujiannya dan bentuk soal pilihan ganda itu telah mereka kuburkan dalam kubur tradisi pendidikan yang kuno. Sistem ujian nasional Singapura dan Malaysia jauh lebih baik karena ada ujian praktik di samping ujian tulis. Mengapa kita tidak cerdas dan seolah tak bisa melihat negeri tetangga dan meniru yang baik dari mereka? Quo vadis dunia pendidikan Indonesia?

Silahkan baca juga goresan puisi berikut ini!

TANPA JUDUL 192

Oleh Martin Bhisu

Negeriku Indonesia
negeri tumpah darah,
serta air mata rakyat jelata
di sana indahnya bentangan pulau
bersama gunung-gunung yang tinggi dan buas,
tumpukan revolusi anti-korupsi.

Negeriku Indonesia
negeri siang dan malam penuh teror
bayang-bayang kejahatan hingga melacuri mimpi
tentang darah dan keringat rakyat jelata yang mengalir
tumpah ruah di lautan duka,
anakmu menangis, tiada air mata
berjuang hingga tumpah darah, darah tiada.

Negeriku Indonesia
negeri anak-anak suka nyontek
pemerintah dan guru-guru dengan dedikasi yang luntur
menabur benih-benih korupsi sejak dini
hidup enak di negeri ini tanpa kerja keras
mengajar melukis garis-garis pembatas
agar generasi baru selalu berada di bawah garis kemiskinan.

Guayaybi, Paraguay, 07 de mayo de 2010

Kunjungilah posting yang berkaitan:

http://sbelen.wordpress.com/2013/04/20/bagaimana-ujian-nasional-un-di-belanda/

http://sbelen.wordpress.com/2013/04/17/sedih-menyaksikan-amburadulnya-ujian-nasional-un-tahun-ini/

http://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

http://sbelen.wordpress.com/2011/08/08/mengapa-mutu-pendidikan-finlandia-terbaik-di-dunia/

http://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

http://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

http://sbelen.wordpress.com/2008/07/30/tes-remidial-di-sd-sma-dan-sma-itu-salah-kaprah/

http://sbelen.wordpress.com/2008/07/09/mengapa-kita-memaksa-siswa-mempelajari-semua-mata-pelajaran/

http://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

 

 

Iklan

Rumah

Tekanan darah tinggi

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

http://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

Sano darah tinggi

Kartu nama Yuni 3

Senandung rindu Flores menolak tambang

Januari 25, 2010

Menuju Wailebe. Di depan tampak Tanjung Gemuk, Adonara, Flores, NTT

Orang Flores sedang menari

SENANDUNG RINDU FLORATA

Oleh Ronny Nmg

Purnama di Tanjung Gemuk

Iluminasi Lohayong wadas negeri

Gelombang pasang Lembata melaut

Surut kembali dingin pagi

Nada anak dara berkebaya tenun

Berungkap hati,

Patah terkulai

Berbalas pantun

Tentang cerita cinta yang telah mati

Dongeng juang nenek moyang

Florata Nusa Makmur

Florata Nusa Damai

————————-

KAMI MENARI

Di bulan purnama raya

Telanjang dada, tak beralas

Tak takut pun gemetar nadi

Langgar Undang-Undang Pornografi

Adat kami punya sejarah

——————————–

KAMI MENARI

Dengan sarung tenun karya tangan

Kebaya kain polos tak berbunga

Kami ini perempuan

Kami punya harga diri

—————————–

DAN

KAMI AKAN TETAP MENARI

Bukan saja di saat purnama menyapa

Tapi juga di waktu bulan sabit

Angkat pedang untuk tambang

Perisai kayu bentengi napas

Tombak lembing tak ketinggalan

Mati terkubur tanah

Hidup terbelenggu lahar tambang

Harga ini 100% darah murni

UNTUK ASASI KAMI

YANG TUMBANG DI LUBANG TAMBANG

—————————————————-

Paraguay, Januari 2010

Ronny Nmg, Casa Central Verbita

Encaranción-Paraguay

Orang Ngada, Bajawa di Desa Bena sedang menari

Uci, ponakanku depan rumah suku di Wailebe, Adonara, Flores

Opu Tima, penjaga adat di kampung Wailebe, Adonara, Flores

Gunung Ile Mandiri tampak di belakang dari kampung Wailebe

Buat Gus Dur & Frans Seda: Pendekar demokrasi, kemanusiaan & pluralisme

Januari 4, 2010

Kampus Seminari Tinggi Ledalero selesai direkonstruksi tahun 2002, 10 tahun setelah dihancurluluhkan gempa yang disertai tsunami pada Desember 1992.

Pater Philip Tule SVD sebagai Rektor Ledalero menyambut Presiden Abdurrahman Wahid yang berkunjung ke Ledalero dan menginap satu malam di sebuah kamar sederhana untuk seorang presiden. Hanya seorang menteri yang pernah menginap di Ledalero yaitu Pak Frans Seda dan hanya ada seorang presiden yang menginap di tempat yang sama, yaitu Gus Dur.

Pada kesempatan terhormat itu, Gus Dur berkenan melakukan launching sebuah buku untuk mendorong toleransi dan saling menghormati antar-penganut agama yang berbeda. Sejak waktu itu para mahasiswa “memburu” dan membaca buku dan tulisan apa pun yang ditulis Gus Dur.

Para alumni STFK Ledalero yang kini berkarya di sekitar 40 negara di dunia bersedih mendengarkan berpulangnya Gus Dur. Belum pulih rasa sedih itu, kesedihan tambah mendalam setelah mendengar berpulangnya Pak Frans Seda. Tidak mengherankan jika pada milis kami muncul beragam komentar, laudes dan pujian bagi kedua tokoh pendekar demokrasi, kemanusiaan, dan pluralisme. Ada yang merasa lebih sreg mengungkap perasaannya dalam bentuk puisi.

Perkenankan kami sajikan sajak dari rekan-rekan alumni STFK Ledalero yang kini mengabdi di mancanegara, dari Bung Ben Wego di USA, Bung Gabriel Adur di Jerman, dan Bung Martin Bhisu di Paraguay. Puisi-puisi yang lain telah kami post pada blog ini sebelumnya.

Pak Frans Seda, berjuang sampai mati

(Foto dari foto di Kompas, 2 – 2-2010)

Sajak-sajak ini dipersembahkan untuk mengenang Gus Dur dan Frans Seda yang ditulis teman-teman untuk mengungkapkan refleksinya tentang kisah pergulatan dua insan manusia. Masing-masing berasal dari pulau, agama, dan habitat yang berbeda tetapi akhirnya bergabung dalam bahtera yang sama, yaitu bahtera pembela demokrasi, kemanusiaan, dan pluralisme.

Sebuah Sajak Kematian

Oleh Ben Wego
Tidur sayang. Tidur sudah
malam sudah luruh
tak terhitung berapa jumlah ….
tidur sayang, tidurlah
——————————————
Biar hari ganti
di sana bumi menanti
telah siap rumah
bila terminal ditinggal sudah
——————————————
tidur sudah sekarang
besok pasti datang
dengan cara dan tangannya
jemput setiap peziarah
——————————————
dengan gementar yang lembut
usap yang capai dan lumat
sampai lepas pikulan
sampai bebas taruhan
—————————————–
menuju yang abadi
menuju kasih yang sejati
juga bila sudah tidur
juga bila sudah lebur
—————————————-

Broussard, Los Angeles, 0110

Hei, beta sambung dengan berikut ini…

Sebuah pemandangan di Flores

TANPA JUDUL 32

Oleh Martin Bhisu
Bangun anakku
tahun sudah baru
matahari hampir bertengger di atas rumah kita
burung-burung sudah meninggalkan sarang mencari makan
dan di tungku api singkong rebus sarapanmu
bawalah separuh ke sekolah bekalmu
sehari suntuk menimba ilmu
bekal di hari tua bila semangat tak uzur.
——————————————————
Bukalah hati dan otakmu
lapangkan budimu
merekam semua yang terhambur di ruang kelas
simpanan memori yang hidup
abadi sepanjang waktu
tak raib darimu termakan ngengat
pun tak musnah digerogot virus.
———————————————-
Ingatlah anakku…
kebodohan melahirkan kemiskinan
kemiskinan membangkitkan revolusi
tapi mereka menang selalu
karena mereka dipersenjatai
dari ujung rambut hingga telapak kaki
dengan ilmu senjata ampuh
dan kau cuma mengulangi hidup ayah dan ibu
menyanyi lagu kesayangan mengais sepotong singkong di kebun
bekal sekolah anakmu.
—————————————————————————————
Bangun anakku
pergilah ke sekolah
aku cuma membuka pintu dan jendela
agar sinar matahari singgah di rumah kita.
——————————————————–

Barrio San Blas, 03 de enero de 2010

Nyanyian Waktu

Oleh Gabriel Adur

dari lembutnya sepoi

dalam  derunya gelombang

pada  teriknya Matahari

hingga cahaya Rembulan

adalah irama dan melodi bumi

dan pelangi,

bukan lewat rebana

dan  kecapi yang dimainkan

musisi dari Arab

atau tidak juga lewat

belaian musik Mozart

bukan hentakan melodi Pop

yang mengiringi gerakan

indah sang penari erotis

tapi  nyanyian itu kudus

dari pusaran universum

dari sebongkah salju di kutub yang mencair

hingga Tzunami yang menggetarkan bumi

nyanyian waktu

kadang melankolis

kadang progresif

tapi iramanya

membawa SABDA pada inzan bumi.

Sankt Augustin, Jerman, 3 Januari 2010

Ben, Gabriel Adur, Gerard Bibang, JDM, dan Bung Sil dan allesa… salam. Setelah membaca puisi-puisi yang inspiratif dari Gerard, Gabriel dan Ben, saya sambung lagi ide kamu. Inspirasinya datang dari kamu, trims…

TANPA JUDUL 31

Oleh Martin Bhisu

Anganku tahun ini
datang selalu musim tumbuh segala tanaman
menjulang ke langit bersama hitungan waktu
berlomba setiap detik tak henti bertunas
saat limpah ruah buah di ranting
bagi sejagat rindu gapai sentosa
agar kemakmuran tak tertunda tahun depan.

Rinduku tahun ini
waktu dan musim bergandengan mesra
ketika hujan dan terik mentari silih berganti datang
menyiram tak henti lahan semesta
memberi sejuk di tanah gersang
di ladang yang retak tanpa nyawa
supaya hidup menyapa semua orang
menunda revolusi akar rumput tahun depan.

Hasratku tahun ini
musim dan waktu di tanganku genggam
agar semua waktu adalah hari ini
tak ada yang lama pun yang baru
dan kuurung semua pesta berpamit dengan waktu
menghalau gembira semu tanpa nurani menyongsong waktu
selagi orang miskin tak makan hari ini.

Musim dan waktu
keduanya sama arti
arti sanubari
menyapa tak henti
di lorong kumuh dan gubuk reyot
bersama orang lapar tak henti
di dusun  menanti musim hujan
bersama petani mati lapar.

Sementara di belahan bumi yang lain
gelegar petasan menyambut waktu
isyarat mulainya pertarungan antara yang lapar dan kaya.

Barrio San Blas, Paraguay, 03 de enero de 1010

andaikan aku seekor burung musim*)

Desember 26, 2009

andaikan aku seekor burung musim*)

oleh gerardus n bibang

(petani humaniora)

.

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

butir-butir salju bercucuran

sekali, dua kali dan berkali-kali

putra- putri bumi  sudah larut dalam mimpi

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

butir-butir salju bercucuran

terhentak aku oleh beberapa detakan:

tak tik tuk, tak tik tak

seekor burung musim terperangkap senyap

tak tik tuk, tak tik tak

seolah mendambakan secercah cahaya di samping jendela

tak tik tuk, tak tik tak

seolah bertanya kepada penghuni rumah:

“boleh kah aku dapatkan kehangatan?”

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

terhanyut aku dalam bisu seribu bahasa

oleh sebuah pertanyaan yang menyesakkan dada:

“mampukah aku menyapanya?”

tak tik tuk, tak tik tak

begitu burung musim bersahut-sahut dari pinggir jendela

menagih jawaban dari penghuni rumah:

“maukah kau beri aku kehangatan?”

tak tik tuk, tak tik tak

tetap tak terjawab dari penghuni rumah

jawaban pas untuk burung musim yang sengsara

karena malam pekat yang senyap

sudah membawa pergi kata-kata yang pas

tiba-tiba terdengar detakan keras:

“tak tik tuk, tak tik plaaaaaaakkkk!

plak plak plaaaaaaaaaaaak!”

burung musim jatuh terkapar

nafasnya yang terakhir terhembus sudah

ditelan larutnya malam pekat

oh, burung musim terperangkap senyap!

maafkan penghuni rumah

yang tidak berbuat apa-apa

di saat-saat kau mulai terkapar

karena aku hanyalah manusia!

oh, burung musim terperangkap senyap!

andaikan aku seekor burung musim

kisah kami tentu sangat lain

mungkin dia tidak terkapar mati

karena aku dan dia sama-sama paham

dalam kata-kata yang pas

karena aku dan dia dalam sehakikat

andaikan aku seekor burung musim

kisah kami tentu tidak jadi begini!

musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

meratapi burung musim itu pergi

saat butir-butir salju bercucuran ke perut bumi

sekali, dua kali, dan berkali-kali

terhenyak aku dalam sepi

tang ting tong, tang ting toooonnggg

lonceng katedral berdentang memecah malam sepi

merecehkan gumpalan salju yang berceceran ke perut bumi

tang ting tong, tang ting tooonnggg

lonceng katedral berdentang tanpa henti

makin lama makin nyaring

membawa kabar bagi semesta penghuni:

“telah lahir bagimu bayi mungil

juru selamat putra-putri bumi!”

tang ting tong, tang ting tooonnggg

terhanyut aku dalam syukur ke langit-langit jagad

gloria bagi Tuhan Maha Besar

yang turun ke bumi dalam rupa manusia

menjadi sehakikat sama

untuk mengangkat derajat manusia dina

oh, musim dingin yang senyap

pekat tiada kehidupan

membawa warta  tentang kebenaran:

“ andaikan Tuhan tidak turun ke dunia

sejarah manusia belum tentu seperti sekarang!

andaikan aku seekor burung musim

sejarah kami tidak akan jadi begini! “

catatan:

*) Burung musim adalah terjemahan bebas dari Waldkauz (burung pungguk). Inilah burung musim dingin yang terbang mencari cahaya. Kalau cahaya terang di jendela, dia hinggap ke sana. Burung ini termasuk dalam jenis Eule (burung hantu).

Di Eropa, banyak orang takut, terutama kalau mendengar burung ini bernyanyi di tengah malam senyap: “Kuwitt, kuwitt.” Menurut anggapan orang berbahasa Jerman, dulu bahkan sampai sekarang, bunyi “Kuwitt,” berarti: “Komm mit, komm mit”.(Ikutlah…ikutlah…: suatu panggilan atau tanda kematian). Eule lalu identik dengan nabi kematian!

Burung ini juga mengetahui, kapan salju mulai berangsur cair sebagai tanda musim dingin telah berakhir.  Dia bernyanyi menyongsong matahari serta bernyanyi pada waktunya lagu cintanya (liebeslied): “Huh, huhhhh…!” Orang Jerman mengartikan ini sebagai tawaan ceria menyongsong cahaya matahari di musim semi: “Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu”, (tawa dan ceria karena bahagia).

Penerbangan damai bebas asap dengki

Desember 26, 2009

Bung S. Belen, pilot tunggal yang terbuai oleh aroma kasih para awak kabin, SMS anda yang kreatif memberi saya inspirasi yang hasilnya adalah TANPA JUDUL berikut ini. Untukmu dan anak-anakmu. Salam kasih dari Paraguay, el corazón de América.

TANPA JUDUL 25

Oleh Martin Bhisu

Hari ini
penerbangan damai
membelah  angkasa biru nan permai
bebas kabut perselisihan dan dengki
setelah rintik hujan jatuh ke bumi
di pangkuan semesta lagi bersemi
berbulan madu dengan keheningan damai.

Hari ini
penerbangan beranjak dari hati
di atas ketinggian jelajah menatap gunung dan lembah
berkelok-kelok terbentang sepandang mata
membentang garis lurus tempat jumpa semua
dan di dalam hati dendang lagu syukur
karena semua akan tiba dengan selamat di hati ini.

Hari ini
penerbangan yang aman
karena semua penumpang mengenakan sabuk iman
menegakan sandaran pengharapan dan kasih
di tangan dan di hati pilot arah kita pasti
dengan aroma parfum cinta awak kabin
semerbak membelai
melantun lagu syukur memecah bising motor pesawat
memenuhi ruangan ketika penumpang lagi tidur pulas
mengusap wajah
satu demi satu
dengan lagu syukur dan sapu tangan hangat
aroma kasih
membangunkan yang lelap dalam mimpi
karena penerbangan kita akan menyentuh bumi
untuk merayakan kelahiran di kampung
tempat hidup baru mulai dari sana
dalam dekap harap dan kasih.

Selamat Natal 2009
Barrio San Pedro, 25 de diciembre de 2009


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 75 pengikut lainnya.