Teman-teman,
Norman Vincent Peale, yang terkenal dengan buku-bukunya tentang berpikir positif dalam buku berjudul Positive Imaging yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengatakan, bahwa dalam hidup ini selain faktor kesehatan, faktor uang menjadi sumber berbagai persoalan kehidupan pribadi dan rumah tangga. Apa-apa saja persoalan dalam hidup, jika ditelusuri ternyata pangkalnya karena persoalan uang.
Apakah Anda akan bahagia jika Anda memenangkan lotere 5 trilyun rupiah? Waktu studi di Inggris, sekali waktu sedang sumpek kami ikut national lottery, dan pernah mendapatkan 10 poundsterling. Setiap kali mengikuti kehidupan pemenang lotere ini, ternyata buntutnya cenderung buruk. Ada yang diceraikan istrinya. Ada yang bentrok dengan mama dan saudara-saudaranya karena pelit berbagi rezeki. Ada yang ketakutan rumahnya disatroni pencuri.
Satu pasangan muda langsung tak tahan karena langsung menjadi amat terkenal. Buru-buru mereka pesan tiket dan berlibur ke Afrika Selatan. Di airport dan dalam pesawat mereka menjadi pusat perhatian. Sepulang ke Inggris, suami-istri ini masih meneruskan kebiasaan berbelanja di street market (pasar kaget) dan tetangga pada bilang, ah pura-pura saja, kan sudah jadi orang superkaya. Kalau mereka berbelanja ke Harrods, toko termahal di London, tetangga bilang, wah sekarang sok hebat. Akhirnya sang pria mengatakan dalam wawancara televisi, jika Anda membeli kupon lotere, pikir-pikir dulu apakah Anda akan bahagia jika memenangkan sekian pound yang setara dengan Rp 5 trilyun.
Dalam buku Rahasia Orang-orang Bahagia, The 100 simple secrets of happy people, pengarangnya David Niven sebagai seorang dosen psikologi mengatakan, bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Kita telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mencari uang, mengkhawatirkan tentang uang, dan menghitung uang. Padahal, kepuasan hidup bukanlah kekayaan.
Beliau selanjutnya menceritakan, bahwa di Amerika Serikat ada suatu gerakan baru yang disebut dengan minimalis, yaitu orang-orang yang menentukan untuk hidup dengan sedikit uang. Mereka membeli lebih sedikit, menghabiskan uang lebih sedikit, dan memiliki sedikit barang. Mereka juga menghabiskan lebih sedikit waktu di tempat kerja dan lebih banyak waktu dengan teman-teman dan keluarga mereka.
Para minimalis ini telah membuat kesimpulan masuk akal bahwa uang tidak dapat memberikan mereka apa yang paling mereka inginkan. Mereka tidak mengejar-ngejar uang hanya karena kebanyakan orang melakukan hal itu.
Jika uang dapat membeli kebahagiaan, mestinya toko-tok di setiap blok, di setiap kota dan desa menjual kebahagiaan dengan harga tinggi.
Sebuah studi tentang kepuasan hidup melihat 20 faktor berbeda yang mungkin menyumbang kebahagiaan. 19 faktor itu benar-benar penting dan hanya 1 faktor yang tidak penting, yaitu status finansial Anda. (Hong dan Giannakopoulos, 1995).
Dulu kita dengar idiom “Small is beautiful”. Mungkin sekarang perlu didengungkan “Fewer is beautiful” atau “The fewer, the happier!”
Nah, setujukan Anda. Mulai sekarang kita kampanyekan, lebih sedikit hari sekolah, lebih sedikit belajar untuk UN, lebih sedikit ulangan mata pelajaran, lebih sedikit berbelanja, lebih sedikit nonton TV, lebih sedikit berinternet, lebih sedikit naik mobil, lebih sedikit kirim sms, lebih sedikit bertelepon, lebih sedikit makan, lebih sedikit minum kopi. bir atau sopi, lebih sedikit merokok, lebih sedikit pakai kertas, ….
Saya takut meneruskan, jadinya nanti:
- lebih sedikit berdoa atau ke rumah ibadah
- lebih sedikit mandi atau gosok gigi
- lebih sedikit menyumbang untuk fakir miskin atau anak yatim piatu
- lebih sedikit mabuk-mabukan
- lebih sedikit pacar atau istri
Selamat beminimalis!
Kaitkata: finansial, Inggris, kesehatan, keuangan, lotere, Norman Vincent Peale, persoalan hidup, USA




Desember 16, 2011 pukul 12:42 pm |
Sirilus,
Live simply so that others can simply live. (Hiduplah sederhana agar orang lain dapat sekadar bertahan hidup).
John Prior (via japri)
Desember 17, 2011 pukul 12:16 am |
Sebuah kisah yang menginspirasi orang-orang modern dewasa ini yang mencari kebahagiaan dalam materi, barang atau uang. Sebuah paradigma baru kebahagiaan yakni dalam kesahajaan, kesederhanaan, keugaharian, minimalisasi. Semoga orang makin bahagia dalam kondisi minimalis ini!
shalom
Desember 17, 2011 pukul 6:00 am |
Terima kasih untuk infonya. Gerakan minimalis, lebih sedikit. “Secukupnya saja”. Wilfrid Babun, Ruteng, Flores
Desember 28, 2011 pukul 4:46 am |
Bagus sekali idenya tetapi sangat berbahaya jika nanti banyak teman-teman kita salahartikan. Memang kita perlu uang perlu, tetapi uang bukan segala-galanya, namun apa mau dikata “segala-galanya juga perlu uang”. Selamat mengelaborasinya ide minimalis ini. Ense da Cunha Solapung – Tabloid Sabda
Desember 29, 2011 pukul 4:00 pm |
I truly prize your piece of work, Fantastic post. 868540