Archive for Mei, 2011

Children’s funny letters to God. (Surat lucu anak kepada Tuhan)

Mei 22, 2011


Please click the file below to see other letters. Silahkan klik file powerpoint Children’s funny letters to God berikut ini!

Children’s funny letters to God

Are they funny? As a teacher would you mind to ask children to write like these?

Tabel peringkat hasil UN SMA dan MA 2011 per provinsi

Mei 16, 2011

Sumber: Diolah dari data pada Padang Ekspress, 14 Mei 2011

Bacalah artikel yang berhubungan:

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

http://sbelen.wordpress.com/2011/05/16/hasil-un-ntt-jeblok-tas-anak-sekolah-ntt-kempes/

http://sbelen.wordpress.com/2011/05/15/mengapa-peringkat-kelulusan-un-2011-siswa-smantt-tetap-di-nomor-buntut/

http://sbelen.wordpress.com/2011/05/14/jika-suka-memvonis-anak/

http://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

http://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

http://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

http://sbelen.wordpress.com/2010/05/14/from-flores-with-love-sebuah-contoh-kebijakan-inovasi-untuk-meningkatkan-mutu-siswa-ntt-yang-terpuruk/

Hasil UN NTT jeblok: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

Mei 16, 2011

Tony Kleden

Dr. Sirilus Belen: Tas Anak Sekolah NTT Kempes

pos kupang/tony kleden

Dr. Sirilus Belen

Senin, 24 Mei 2010 | 23:27 WIB

SEMUA meradang ketika tahu hasil UN NTT jeblok. SLTP maupun SLTA sama saja. Hancur. Semua mata tertuju ke NTT. Sulit dimengerti hasil itu. Karena Papua yang selama ini paling buruk, tahun ini lebih baik hasilnya dari NTT.

Bodohkah anak-anak NTT? Walahualam! Keprihatinan itu juga begitu memukul satu orang NTT di Depdiknas, namanya Dr. Sirilus Belen. Bagaimana tidak terpukul? Sirilus, boleh dibilang, salah seorang mastermind di Balitbang Depdiknas. Merekalah yang berada di dapur Depdiknas yang kerjanya merancang, menyusun dan memperkenalkan kurikulum, metode pengajaran dan juga bahan ajar untuk sekolah- sekolah di Indonesia.

Sirilus sudah sangat menyatu dengan dunia pendidikan. Seperti ikan dan air saja. Dia terbang ke begitu banyak daerah hingga ke pelosok-pelosok tanah air untuk memajukan dunia pendidikan. Masuk akal kalau dia menjerit menyaksikan hasil UN NTT kali ini. Bagaimana pandangannya tentang pendidikan, khususnya pendidikan di NTT? Melalui facebook, Sirilus menjawab sejumlah  pertanyaan Tony Kleden dari Pos Kupang.

Hasil UN NTT, baik SLTP maupun SLTA, tahun ini jeblok. Apa komentar Anda?
Benar benar memalukan. Karena prestasi siswa-siswa Papua ternyata lebih baik daripada prestasi siswa NTT. Jika kita browse internet, jelas tergambar bahwa pada hasil UN SMA tahun 2008 NTT juga berada di nomor buntut. Pak John Manulangga waktu itu memberi komentar faktor penyebabnya dan koran koran lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos memberitakan aneka tanggapan dari berbagai kalangan pendidikan yang relevan. Tapi, setelah UN berlalu, seperti biasa orang cepat melupakan tragedi ini. Dan, kita kembali ke business as usual, seperti tak ada apa apa, tak ada masalah.

Apa dan siapa yang salah?

Yang jelas salah adalah komandan pendidikan di NTT. Jika di propinsi, ya Kepala Dinas PPO  NTT,  dan di kabupaten/kota ya Kepala Dinas PPO kabupaten/kota. Karena, kepala dinas adalah pemimpin dan manejer pendidikan. Kepala dinas punya pasukan, yaitu kantor dinas yang didukung para pengawas yang bertugas membina sekolah. Kepala dinas juga punya wewenang untuk menggelontorkan dana pendidikan untuk berbagai keperluan. Walaupun lebih banyak sekolah swasta di NTT dibandingkan sekolah negeri tapi terbanyak guru sekolah swasta adalah PNS. Dan, yayasan pendidikan swasta kini menjadi macan ompong karena yang membayar gaji mereka adalah pemerintah.

Kalau kita telusuri lagi untuk mencari siapa yang salah, kita wajar bertanya siapa yang mengangkat kepala dinas pendidikan yang kurang kompeten, yang mungkin tidak berlatar belakang karier dari dunia pendidikan, atau yang berlatar belakang karier dari dunia pendidikan tapi kurang memiliki komitmen atau kurang bertanggung jawab. Jika kita lihat dari bawah ke atas, yang salah di tingkat akar rumput, ya kepala sekolah yang paling salah dan kemudian guru yang juga salah.

Apakah hasil itu juga mencerminkan taraf kemampuan intelektual anak anak NTT?
Jika kemampuan intelektual diartikan kecerdasan intelektual yang biasanya disebut IQ, menurut saya, hasil UN ini tidak mencerminkan tingkat kecerdasan intelektual anak anak NTT. Tingkat IQ anak adalah bawaan sejak lahir sehingga hasil ujian apa pun tidak mencerminkan IQ. Tingkat IQ yang tinggi akan terekspresikan jika kondisi lingkungan pendidikan di rumah dan di sekolah mendukung pemupukan dan peningkatan kecerdasan intelektual itu.

Seorang anak yang lahir sebagai insan jenius bisa saja tidak diketahui jika kondisi rumah dan sekolah tidak mendorong munculnya kejeniusan anak. Karena itu, banyak jenius yang berakhir sebagai gelandangan atau orang yang gagal dalam pekerjaan dan kehidupannya. Albert Einstein yang hebat itu pernah tidak lulus ujian SMA di Swiss karena mendapat nilai merah pada ujian matematika dan fisika. Ia harus belajar lagi sambil indekos di rumah kepala sekolahnya di sebuah kota lain dan kemudian baru lulus setelah menempuh ujian SMA pada kali kedua.

Lantas, faktor determinan apa yang jadi penyebab hasil UN yang buruk itu?
Ada banyak faktor. Pertama, inkompetensi kepala sekolah dan guru. Umumnya kepala sekolah diangkat dari para guru. Dan, tidak ada pendidikan khusus guru untuk menjadi kepala sekolah setelah program studi administrasi/manajemen pendidikan dihapus pada tingkat S1 di fakultas ilmu pendidikan universitas, cq. Universitas Nusa Cendana. Untuk guru SD ada PGSD dan untuk guru SMP, SMA, dan SMK ada FKIP universitas. Menurut pengamatan saya, dibandingkan dengan PGSD dan FKIP universitas yang bermutu di Jawa, mutu PGSD dan FKIP universitas-universitas di NTT masih memrihatinkan. Kedua, kurangnya tanggung jawab tugas seorang kepala sekolah dan guru serta kurangnya disiplin di sekolah.

Kedua hal ini disebabkan oleh tidak diterapkannya imbalan (reward) dan sanksi (punishment) yang tegas dan kurangnya pengawasan atau kontrol pengawas sekolah sebagai perpanjangan tangan dinas pendidikan.

Ketiga, kurangnya transparansi keuangan dan akuntabilitas penggunaan dana pendidikan baik dari sumber pemerintah maupun orangtua siswa.

Keempat, strategi pembinaan guru melalui penataran ternyata tidak membawa perubahan signifikan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Jika Anda mengambil guru dan menatarnya di lokasi penataran, Anda hanya mengubah variabel guru tapi tidak mengubah variabel-variabel penentu mutu di sekolah.

Bagaimana mesti membenahinya?

Menurut saya, masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan propinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN.

Kedua, tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu.

Ketiga, ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Keempat, mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah.

Anda keliling Indonesia melihat dan membenahi pendidikan di tempat lain. Bagaimana Anda melihat mutu pendidikan di NTT dibanding dengan daerah lain?
Indikator mutu pendidikan saya pilih berikut ini. Pertama, tulisan anak-anak kelas 3 SD. Belum pernah saya lihat tulisan anak SD kelas 3 di propinsi-propinsi yang amat tertinggal di bidang pendidikan, seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Papua, yang seburuk tulisan anak anak kelas 3 SD NTT. Terbanyak masih menggambar huruf dan angka. Jelas anak-anak ini tidak bisa membaca dan memahami soal atau tugas kalau menulis saja masih pontang panting. Kemampuan membaca anak-anak kelas 3 dan kelas 5 SD juga parah di daerah-daerah tertentu di NTT.

Kedua, berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya merintis inovasi di berbagai daerah di Indonesia, kemampuan siswa-siswa NTT pukul rata dua tahun tertinggal di belakang dibandingkan kemampuan para siswa di Jawa. Jika saya cek kemampuan siswa kelas 5 SD di Kota Kupang, misalnya, ternyata  masih setaraf kemampuan siswa kelas 3 SD di Malang. Kemampuan siswa kelas 3 SMP di Ende masih setaraf kemampuan siswa kelas 1 SMP di Solo. Kemampuan siswa kelas 3 SMA di Maumere masih setaraf kemampuan siswa SMA kelas 1 di Yogyakarta. Ini kesimpulan sementara saya pada awal tahun 2000. Dengan mengamati hasil UN tahun 2008-2010, mungkin perbedaan itu sudah melebar menjadi 3 tahun.

Ketiga, dari segi ketersediaan dan keterjangkauan buku pelajaran bermutu, tampaknya para siswa NTT amat sulit memiliki buku pelajaran mata-mata pelajaran kunci yang diuji dalam UN. Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran terbitan-penerbit swasta yang bermutu tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Indikator sederhana yang kasat mata adalah melihat sebesar dan seberat apa tas sekolah yang dibawa para siswa di NTT. Jika kita lihat para siswa SD, SMP, dan SMA bermutu di Jawa dan Bali tampak mereka terbungkuk bungkuk membawa tas sekolah berisi buku. Sebaliknya di NTT, kita lihat para siswa sekolah bermutu di NTT hanya bawa sedikit sekali buku pelajaran. Tas mereka tampak kecil dan kempes.

Kalau begitu terobosan apa yang perlu dilakukan?

Pertama, rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas.

Kedua, dinas pendidikan propinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced.

Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan propinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Keempat, Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK?

Sekolah-sekolah misi dulu sangat hebat. Mengapa tidak diadopsi sekarang?
Satu demi satu sekolah misi berasrama ditutup karena masalah biaya. Para pejabat gereja berpikir bahwa pemerintah sekarang mengelola banyak dana dan mampu membuka sekolah-sekolah baru. Karena itu, tongkat estafet itu diserahkan kepada pemerintah. Kalau pemerintah telah mampu, gereja mundur ke belakang dan hanya memotivasi. Tapi, kita tahu sikap mental birokrat itu cenderung korup dan kejujuran atau transparansi keuangan itu sulit ditegakkan. Disiplin sekolah berantakan. Gereja terlalu cepat mundur ke belakang, padahal awam belum sepenuhnya mampu.  (*)

Berkat Artikel di Kompas
NAMA Sirilus Belen di NTT sepertinya kalah tenar dengan para politisi. Sosoknya juga tidak banyak diketahui. Meski lahir di Makassar,  7 Juli  1950, Sirilus  asli NTT. Bapak dan mamanya dari  Wailebe, Adonara, Flores Timur. Ayahnya, Antonius Sinaama Belen, adalah seorang guru SMP Negeri Airnona tahun 1951-1954.  Ibunya Sophia Belen bekerja di RSU Prof. WZ Johannes, Kupang. Ibunya lebih dikenal dengan panggilan Tanta Belen.

Tubuhnya kecil saja. Penampilannya juga sangat sederhana. Di tengah banyak orang, Anda pasti keliru, tak membayangkan orang ini punya otak cemerlang dan salah seorang periset penting di Balitbang Depdiknas di Jakarta. Di kalangan praktisi pendidikan di Indonesia, namanya sangat terkenal, melambung jauh menembus negeri ini. Klik saja namanya di google.com dan dalam waktu cuma 0,22 detik muncul  491.000 icon yang mencantumkan namanya.

Meski periset, sejatinya Sirilus Belen adalah ‘orang panggung.’ Tahun 1980-an sebelum bergabung di Depdiknas, Sirilus adalah kolumnis surat kabar dengan minat besar pada pendidikan. Bakatnya menulis telah diasa sejak masih mahasiswa di STF/TK (sekarang STFK) Ledalero awal tahun 1970-an.

Hasratnya mengunyah banyak ilmu nyata dari beberapa jenjang pendidikan yang dimasukinya. Setamat Seminari Menengah Lalian, Atambua, Sirilus meneruskan pendidikan di Ledalero. Cita-cita awal menjadi imam. Di jalan, cita-cita ini gagal diraih. Maka,  dia  masuk Undana tahun 1975. Dari Undana, Sirilus masuk IKIP Malang (1979 – 1980). Tamat dari sini, dia masuk lagi di Fakultas Psikologi UI, tetapi tidak tamat.

“Sejak dari IKIP Malang sampai waktu kuliah di UI, saya menjadi kolumnis Kompas. Dari artikel di Kompas, Prof. Dr. Soeroso Prawirohardjo sebagai Kepala Balitbang Depdikbud tertarik dengan ide-ide yang saya lontarkan. Waktu itu Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (KPPN) baru menyelesaikan tugasnya merumuskan kebijakan jangka panjang sebagai bahan penyusunan draft UU Pendidikan Sistem Pendidikan Nasional. Karena, Pak Daoed Joesoef waktu itu sebagai Menteri Pendidikan belum merasa sreg dengan hasil KPPN, Balitbang Depdikbud diberi tugas mempertajam usulan KPPN melalui penjaringan gagasan- gagasan dari kalangan universitas, yayasan pendidikan keagamaan, dan jajaran departemen di daerah. Pak Soeroso memanggil saya dan menawarkan untuk membantu tugas Satgas pembaharuan sistem pendidikan nasional,” urai Sirilus.

Setelah bekerja sama dengan teman-temannya dari Balitbang Dikbud yang waktu itu berperan sebagai think tank inovasi pendidikan, Sirilus ‘terpaksa’ menjadi PNS. “Karena lebih baik mempengaruhi dari dalam daripada berteriak di luar melalui media massa. Setelah lolos seleksi PNS, Pak Soeroso menempatkan saya di Pusat Kurikulum Balitbang Dikbud. Waktu itu Ibu Conny Semiawan adalah tokoh yang paling gencar merintis berbagai inovasi pendidikan,” jelasnya.
Di dapur Depdiknas, kata Sirilus, beasiswa untuk belajar ke AS amat terbuka. Tapi karena anak ketiganya lahir, dia makin susah mengambil melanjutkan studi S3.  “Dari segi kualitas dan kerja saya merasa tak perlu mendapatkan gelar S3. Setelah terlibat inovasi pendidikan dengan nama CBSA selama 8 tahun, Dr. Roy Gardner, konsultan CBSA terus mendorong saya studi lanjut di Inggris. Karena melihat orang Indonesia menghargai orang dari segi gelar, akhirnya terpaksa saya melanjutkan studi ke London, walaupun anak yang ke 4 belum genap dua tahun. Semula saya mendaftar untuk S2 Sosiologi dan Antropologi, tapi karena Prof. Dr. John Taylor sebagai pembimbing menilai usul research project saya bagus dan kemampuan bahasa Inggris bagus, maka melalui rapat fakultas, saya diperbolehkan langsung proceed ke Ph.D (S3) tanpa melalui jenjang S2,” katanya.

Setelah lama berkiprah dalam pengembangan kurikulum sambil merintis inovasi di daerah-daerah dan menatar para guru, Sirilus berkesimpulan bahwa perubahan pendidikan tidak bisa diharapkan dari atas. “Kita mesti berbalik secara radikal dengan merintis inovasi mulai dari akar rumput, dari sekolah,” katanya.

Nah, dia kemudian berhenti sebagai peneliti dan pengembang lalu terjun langsung membina sekolah di daerah-daerah melalui pengembangan sekolah model. Melalui kerja sama dengan berbagai NGO dan penerbit buku, Sirilus langsung menggerakkan akar rumpul melalui pengembangan sekolah model. Selama ini yang terbanyak adalah SD model dan satu SMA, yaitu SMA Seminari Pematang Siantar sejak tahun 2007. Tahun 2009 melalui kerja sama dengan Save the Children dalam waktu tiga bulan berhasil terbentuk 1 SD model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang menjadi SD terbaik di Ternate sekarang ini, yaitu SDN BTN Maliaro. Di Pulau Bacan, SDN Labuha 1 dan SDN Mandaong adalah dua SD terbaik di Kabupaten Halmahera Selatan.

Di NTT, melalui program WVI, Sirilus sedang mengembangkan tiga  SD model di Flores Timur. Model yang dikembangkannya adalah inhouse training. Hebatnya, model ini telah diterima dan diadopsi Mendiknas menjadi kebijakan nasional.  (len)

Sumber:

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

Iklan

 

 

 

Echo_Sooyoung_02

Human heart

Kunjungi posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

http://sbelen.wordpress.com/2013/04/15/sano-ramuan-herbal-berkhasiat-mulai-bisnis-di-usia-62-tahun/

Gambar spanduk Sano

sano-menyuburkan-wanita-juga-pria

Kartu nama Yuni

Mengapa peringkat kelulusan UN 2011 siswa SMA NTT tetap di nomor buntut?

Mei 15, 2011

Sumber: Padang Ekspres, 14 Mei 2011

Hari ini ketika kami sedang menatar 100 guru TK, SD, SMP, dan SMA Prayoga dari 3 kota di Sumatera Barat (Bukittinggi, Padang Panjang, dan Payakumbuh) di Bukittingi, Pak Siregar, ketua yayasan memberi saya koran lokal Sumatera Barat yang memberitakan NTT menduduki peringkat buntut hasil ujian SMA dan SMK sedangkan Bali tetap di peringkat I. Aceh peringkat 5, Sumatera Barat peringkat 6 (tahun lalu masuk 10 besar).

Saya sedih dan malu sekali di hadapan para guru dan kepala sekolah dalam forum penataran ini.

Dari data yang saya miliki NTT berada di nomor buntut sejak 2008 s.d. 2011. Tampaknya sebelumnya juga pada nomor buntut tapi tidak disiarkan secara nasional.

Lalu, apa langkah perbaikan mutu pendidikan NTT seperti yang kami usulkan pada liputan khusus Pos Kupang tahun lalu telah dilakukan? Lihat http://www.pos-kupang.com/read/artikel/48270/dr-sirilus-belen-tas-anak-sekolah-ntt-kempes

Tidak ada perbaikan signifikan yang dilakukan. Nol besar. Sepuluh usul atau gagasan yang kami lontarkan untuk membenahi pendidikan NTT terbang bersama angin di sabana NTT. Memang gue pikirin? Perkenankan menyimak kembali ke-10 usul / gagasan itu.

1.      Masalah yang luar biasa harus dipecahkan melalui tindakan yang luar biasa. Pertama, ganti kepala dinas pendidikan provinsi dengan orang yang kapabel, mempunyai visi yang jelas, dan mampu menggerakkan seluruh jajaran pendidikan di NTT yang bertanggung jawab memutar roda pendidikan NTT. Usul ini tidak dilakukan.

2.      Ganti kepala dinas kabupaten/kota yang tidak kompeten yang selama tiga tahun ini menunjukkan penurunan prestasi siswa dalam UN. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Kepala dinas kabupaten yang diganti hanya yang memasuki pensiun, seperti di Lembata.

3.      Tutup SMA, SMP, dan SD negeri dan swasta yang para siswanya lulus 0% pada tahun 2008, 2009, atau 2010 ini. Pindahkan guru dan kepala sekolahnya yang berstatus PNS ke sekolah-sekolah lain. Inilah bentuk akuntabilitas dinas dan yayasan pendidikan. Lebih baik siswa tidak bersekolah daripada bersekolah di sekolah yang amat tidak bermutu. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

4.      Ganti kepala sekolah yang siswa-siswanya menunjukkan penurunan prestasi selama dua tahun berturut-turut dalam UN dengan kepala sekolah yang kapabel, transparan, dan akuntabel. Umumnya usul ini tidak dilakukan.

5.      Mengembangkan mutu pendidikan NTT hendaknya dimulai dari SD, dengan fokus pembenahan kemampuan calistung (baca, tulis, hitung) siswa dengan menerapkan pendekatan belajar aktif dan dilandasi manajemen berbasis sekolah. Usul ini umumnya tidak dilakukan. Hanya satu-dua yayasan yang melakukan pelatihan selama 1 tahun ini. Pelatihan yang dilakukan dinas hanya sporadis, sedikit di sana-sini dan model pelatihannya ya 1 arah, ceramah, dan ini jelas tak bisa mengubah kemampuan guru. Materi penataran pun dominan diisi pembuatan silabus dan RPP, perangkat pembelajaran,  dokumen administrasi guru.

6.      Dinas Pendidikan NTT tahun-tahun terakhir ini lebih memilih menggunakan dana BOS untuk membeli buku sekolah elektronik (BSE) yang bermutu rendah, sedangkan untuk membeli buku-buku pelajaran bermutu terbitan penerbit swasta tampak tak ada kemauan dinas pendidikan menggunakan dana APBD. Usul ini umumnya tidak dilakukan.

Pemerintah pusat menggelontorkan dana 1 milyar per kabupaten di NTT untuk memperbaiki mutu pendidikan di NTT. Dari seorang kepala dinas kabupaten, saya tanya digunakan untuk apa uang 1 milyar itu. Dana itu langsung diberikan kepada sekolah. Lalu, apa yang dilakukan kepala sekolah. Membeli semen untuk membangun ruang belajar atau merenovasi sekolah. Saya bilang semen itu tidak bisa meningkatkan mutu.

7.      Rintis sekolah model belajar aktif dan TQM (Total Quality Management) di tiap kabupaten/kota. Mulailah dengan 1 atau 3 sekolah per jenjang (SD, SMP, dan SMA). Pengembangan model dilakukan melalui inhouse training dengan mendatangkan konsultan dari PGSD dan FKIP di Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, STKIP Ruteng, bekerja sama dengan pengawas dan tim perekayasa kurikulum yang telah dirintis Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas. Usul ini tidak dilakukan. Kami sendiri yang direncanakan mengembangkan sekolah model di Lembata, ternyata ditunda dan baru akan dimulai Juli ini.

8.      Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten bekerja sama dengan universitas membentuk teacher centers di FKIP Undana, Unwira, Unkris, Uniflor, dan STKIP Ruteng. Tugas teacher centers adalah mendiseminasi gagasan baru, melalukan pendampingan sekolah, dan menatar para guru dan kepala sekolah potensial secara berjenjang dari tingkat elementary, intermediate sampai  advanced. Usul ini masuk telinga kiri keluar melalui telinga kanan.

9.      Ketiga, dalam waktu dua tahun ini dinas pendidikan provinsi dan kabupaten melalui policy gubernur dan bupati membuka dan memperluas jaringan internet sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bekerja sama dengan jaringan internet Kemdiknas. Gagasan ini sama sekali tidak digubris. NTT tetap terisolasi.

10.     Papua telah menyalib NTT karena mutu pendidikan Papua paling tidak dapat didongkrak melalui pendirian sekolah-sekolah berasrama yang dibiayai dengan dana OTSUS. Walaupun dana pendidikan NTT terbatas, tapi apa salahnya kita membantu tarekat suster dan frater serta organisasi Kristen dan Islam yang selama ini telah menyelenggarakan sekolah berasrama yang bermutu agar menambah sekolah- sekolah berasrama untuk siswa SMP, SMA, dan SMK? Gagasan ini terbang bersama angin, tak disambut.

Kalau guru tidak bermutu, ya pakai buku pelajaran bermutu karena setidak-tidaknya siswa dapat membantu dirinya sendiri didukung orang tua dan saudara atau tetangganya untuk mencerna buku itu. Tapi, apa kata kepala sekolah, guru, dan siswa di Flores? Pak, kalau bisa kirim kami buku-buku soal, dan kalau dapat bocoran soal UN kirim kepada kami. Saya bilang, mutu tidak bisa diraih secara instan. Perbaiki dan tingkatkan proses belajar-mengajar, dan dengan sendirinya mutu meningkat dan prestasi UN luar biasa. Ini sudah terbukti di sekolah-sekolah sekolah model yang telah kami bantu kembangkan.

Pendekatan strategis seperti ini hanya disadari oleh segelintir the small rest, sisa kecil yang mau bangkit dari keterpurukan. Sebagai contoh dan untuk informasi berikut ini dikemukan contoh berikut ini. Dalam waktu dekat kami diminta oleh SMP  Immanuel dan SMA St. Paulus Pontianak untuk memulai pengembangan dua sekolah ini menjadi sekolah model belajar aktif dan manajemen berbasis sekolah. Mungkin pula kami akan menatar guru-guru SMP Al Azhar dan sekolah-sekolah di Ketapang, Kalimantan Barat pada akhir Juli. Minggu lalu Fr Sarto menelepon dari SMA Ndao Ende agar tanggal 6 – 9 Juli kami membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kami usulkan diikutkan juga SMP Ndao. Tadi siang di Bukittinggi Pak Siregar dan Ibu Silvia kepala SMA Prayoga meminta kami untuk membantu mengembangkan SMA ini menjadi sekolah model. Kalau tak ada aral melintang Juli ini kami akan memulai pengembangan sekolah model di Lembata.

Lalu, apa prakarsa dinas pendidikan provinsi dan kabupaten di NTT untuk melakukan terobosan inovasi pendidikan NTT guna meningkatkan mutu sekolah-sekolahnya? Mengapa hanya siswa yang divonis tidak lulus ujian nasional? Mengapa tak ada sanksi bagi pejabat pendidikan, kepala sekolah, dan guru yang tidak mampu mendidik anak agar lulus UN? Di manakah hati nurani kita ditaruh?

NTT-ku sayang, NTT-ku malang.

Bacalah artikel yang relevan:

http://sbelen.wordpress.com/2010/05/08/ganti-sistem-ujian-nasional-dengan-menerapkan-sistem-open-book-test-dan-tes-terstandar/

http://sbelen.wordpress.com/2008/12/29/belajar-aktif-pakem-ujian-nasional-un-ibarat-air-dengan-minyak/

http://sbelen.wordpress.com/2011/01/11/3-tahun-banyak-siswa-tak-lulus-un-pecat-guru/

http://sbelen.wordpress.com/2010/05/14/from-flores-with-love-sebuah-contoh-kebijakan-inovasi-untuk-meningkatkan-mutu-siswa-ntt-yang-terpuruk/

Iklan

1243328602_school-abuse

Human heart

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

Kartu nama Yuni

Jika suka memvonis anak

Mei 14, 2011

SALAH SIAPA …?

Oleh S.Belen

Jangan salahkan anak suka menyontek, siapa tahu kita pun menyontek waktu mengikuti tes!

Jangan salahkan anak berbicara kasar, siapa tahu kita pun suka membentak anak!

Jangan salahkan anak berkata bohong, siapa tahu kita pun suka main akal-akalan!

Jangan salahkan anak suka membolos, siapa tahu kita pun sering tidak datang ke sekolah dengan alasan mengada-ada!

Jangan salahkan anak memanggil Pak Matematika, Bu Fisika, Bapak Galak, Ibu Judes, siapa tahu kita pun tidak mengenalnya dan tidak pernah memanggil namanya!

Jangan salahkan anak malas membaca, siapa tahu kita pun jarang membaca koran dan buku!

Jangan salahkan anak tidak jujur, siapa tahu kita pun sering tidak jujur!

Jangan salahkan anak malas mengerjakan PR, siapa tahu kita pun suka malas membuat persiapan mengajar!

Jangan salahkan anak tidak bertanggung jawab, siapa tahu kita pun sering tidak bertanggung jawab!

Jangan salahkan anak menaruh kaki di atas meja, siapa tahu tanpa sadar kita pun pernah melakukannya!

Jangan salahkan anak tidak suka bekerja sama, siapa tahu kita pun sering tidak mau bekerja sama dengan rekan guru dan kepala sekolah!

Jangan salahkan anak tidak toleran, siapa tahu kita pun sering tidak memberi toleransi kepada anak!

Jangan salahkan anak kurang kasih sayang kepada temannya, siapa tahu kita pun sering sulit memaafkan orang yang bersalah kepada kita!

Jangan salahkan anak kurang percaya diri, siapa tahu kita pun sering tampil galak untuk menyembunyikan kelemahan diri!

Jangan salahkan anak tidak kreatif, siapa tahu kita pun sering tidak suka mencoba!

Jangan salahkan anak tidak tahu sopan santun, siapa tahu kita pun sering tidak suka antri, meludah atau membuang sampah sembarangan!

Jangan salahkan anak kurang mandiri, siapa tahu kita pun sering suka bergantung kepada orang lain!

Jangan salahkan anak tidak bisa mengendalikan diri, siapa tahu kita pun sering tak mampu mengontrol emosi kita!

Jangan salahkan anak tidak tahan banting, siapa tahu kita pun sering suka cepat menyerah!

Jangan salahkan anak suka pacaran, siapa tahu kita pun berselingkuh tanpa ketahuan!

Bukittinggi, 15 Mei 2011

Iklan

Anak tendang guru

Sakit kanker

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-serang-sel-kanker

Kartu nama Yuni 2

Want to see me juggling

Bahasa asing yang tergampang? Bahasa Korea

Mei 12, 2011

MARI KITA BELAJAR BAHASA KOREA

Kurang Ajar                     = Monyong
Tidak Lurus                     = Men Chong
Pria suka berdandan      = Ben Chong
Tiba-tiba                          = She Khonyong Khonyong
Gak Punya Duit                = Nao Dhong
Pengangguran                = Nong Krong
Belanja                          = Bao Rhong
Merampok                     = Cho Long
Saringan Botol                = Choo Rhong
Kendaraan Berkuda           = An Dhong
Jual Mahal                          = Gheng Xi Dhong
Ngelamun                          = Bae Ngong
Mulut                                    = Mon Chong
Sosis                                    = Lap Chong
Suami dari adiknya Papa      = Ku Chong
Kiss me                               = Soon Dhong Yang
Sweet memory                     = Choo Pang Dhong
Mobil mogok                          = Dho Rong Dhong
Lapangan luas                          = Park King Lot
Pantat gatal-gatal                     = Che Bhok Dhong
Nasi dibungkus daun pisang     = Lon Thong
Cowok Cakep Kaca Mata          = Bae Yong Jun
Cowok Cakep Rambut Lurus     = Jang Dong Gun
Cowok Cakep Rambut Keriting = Ahn Jung Hwan
Bagian belakang                     = Bho Khong
Masih muda                          = brondhong
Pantat gatal                          = Ga ruk dong
Telur asin                          = Ndok A Chin
Sendok Gede                     = Cen Thong
Celana Sobek                = Bho Long
Kepala Botak                     = Kin Clong
Lagi Menyanyi                     = Me Lo Lhong
Orang Hitam                     = Goo Shong
Bibir Ucup                          = Mo Nyong
Berbulu                               = Ge Ran Dhong
Jongkok Di Pinggir Kali      = Be ol Dong

Osama bin Laden dapat menghindar jika teliti membaca bocoran Wikileaks

Mei 6, 2011

Andaikan orang-orang kepercayaan Osama bin Laden atau ia sendiri teliti membaca release terbaru dokumen pemerintah AS yang dibocorkan Wikileaks, mereka dan Osama sendiri mungkin sadar bahwa intelijen Amerika Serikat telah mengendus keberadaannya di Abbottabad, Pakistan. Informasi Wikileaks ini dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum Presiden Obama memutuskan penyerbuan yang mengakibatkan kematian pemimpin Al-Qaeda ini.

Salah satu kunci penemuan Osama bin Laden, seperti laporan yang mengutip para pejabat AS, adalah dengan mengikuti jejak kurir-kurir Osama, terutama salah seorang kurir yang terus dikuntit, yang dikatakan sebagai orang kepercayaan Khalid Sheikh Mohammed dan seorang asisten yang dipercaya oleh Abu Faraj Al-Libbi, seorang pejabat senior al Qaeda yang ditangkap tahun 2005. Informasi ini justru diperoleh dari tahanan di penjara AS. Para tahanan itu juga mengidentifikasi orang ini sebagai salah satu dari beberapa kurir yang dipercaya Osama bin Laden. Intelijen AS mampu mengungkap identitas kurir ini 4 tahun lalu, dan dua tahun lalu ditemukan daerah di Pakistan sebagai wilayah kerja kurir ini dan saudaranya.

File Guantanamo ini tentang salah satu kurir ini diterbitkan minggu terakhir April. Inilah informasi yang menjadi konsumsi publik oleh Wikileaks sehingga siapa pun di dunia ini dapat mengakses dan menemukan bahwa AS sekurang-kurangnya menaruh perhatian terhadap Abbotabad. Informasi ini tidak banyak, tapi informasi seperti ini justru luput dari perhatian Al Qaeda atau Osama bin Laden sendiri.

Inilah dokumen rahasia yang dibocorkan itu.

Sumber: John Hudson 2 Mei, 2011

File utuh Al-Libbi dapat diunduh pada sumber di website berikut ini.

http://www.theatlanticwire.com/global/2011/05/wikileaks-files-contained-clue-bin-laden-abbottabad-hideout/37252/

iklan

900x900px-LL-8a7cf11f_funny-gif-Japanese-show-crazy

heart-attack

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

gambar spanduk sano

Sano sembuhkan asma

Kartu nama Yuni

Teladan + pembiasaan = karakter

Mei 5, 2011

Tentang Budi Pekerti

Yang Utama Adalah Keteladanan

Kamis, 5 Mei 2011 | 03:18 WIB

KUPANG, POS-KUPANG.COM —Pendidikan budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri hanya punya sejarah yang amat singkat dalam kurikulum di alam Indonesia merdeka, yaitu dari Kurikulum 1947 sampai dengan Kurikulum 1964. Yang paling dibutuhkan sebetulnya bukan mata pelajaran budi pekerti, tetapi keteladanan dan pembiasaan perilaku hidup yang baik dan mencerminkan nilai-nilai moral.

Demikian pendapat Dr. Sirilus Belen,  peneliti dan pegiat pendidikan, menjawab pertanyaan Pos Kupang melalui email, Rabu (4/5/2011), menanggapi pentingnya budi pekerti membangun karakter anak-anak sekarang. Dr. Sirilus Belen menghabiskan masa tugasnya sebagai PNS di Pusat Kurikulum Depdiknas Pusat, Jakarta. Dia meraih gelar master dan doktor di London. Saat ini, putra NTT ini berkeliling Indonesia memberi pelatihan kepada para guru untuk mengembangkan sekolah-sekolah model.

Menurut Sirilus, sejak hilang dari kurikulum pendidikan, budi pekerti diintegrasikan ke dalam pendidikan Kewarganegaraan, kemudian Pendidikan Moral Pancasila (PMP), dan kini Pendidikan Kewarganegaraan (Kurikulum KTSP 2006).

Sirilus mengingatkan, kurikulum hendaknya tidak dilihat secara sempit hanya berupa mata pelajaran. “Kurikulum adalah seluruh pengalaman anak, pengalaman siswa di sekolah,” katanya.

Menurutnya, pengajaran nilai-nilai moral dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang mengandung nilai-nilai budi pekerti dewasa ini cenderung tidak efektif karena materi dan kompetensi dalam kurikulum terlalu bersifat kognitif dan diajarkan secara teoritis, verbalistis, cenderung menekankan nasihat tanpa penegakan imbalan dan sanksi dalam pelaksanaan nasihat.

Dia juga melihat perilaku anak-anak sekarang yang cenderung kasar dan gampang terlibat dalam aksi kekerasan karena terjadi kemerosotan keteladanan guru di sekolah dan suburnya kasus-kasus kejahatan yang diperankan orangtua dan dilihat anak-anak. “Di sekolah-sekolah di negara maju, tidak ada mata pelajaran pendidikan moral, tidak ada pendidikan budi pekerti sebagai mata pelajaran tersendiri, namun nilai-nilai moral siswa seperti kejujuran, sopan-santun, kasih sayang, adil dipraktikkan karena terjadi proses peneladanan dan pembiasaan dalam seluruh suasana dan aktivitas sekolah, termasuk dalam proses belajar-mengajar,” jelasnya.

Pentingnya proses peneladanan dalam menumbuhkembangkan budi pekerti siswa. Proses peneladanan adalah cara terpenting. Yang juga penting adalah proses pembiasaan. Prinsip peneladanan dan pembiasaan tidak menekankan nasihat karena menurut para ahli, 25% anak memperhatikan nasihat, 18% melakukan yang sebaliknya, dan 57% tidak melakukan apa pun. Hanya 1 dari 4 anak yang memperhatikan nasihat orangtua dan guru.

Menurutnya, proses peneladanan dan pembiasaan harus dimulai dari ‘kaki’, kemudian menyentuh ‘hati’, dan terakhir barulah ‘pikiran’. Perubahan perilaku individu dimulai dari kaki, dalam arti mulai bertindak, melakukan, berbuat, walaupun dalam tindakan kecil dan sederhana. Pada tahap berikutnya setelah anak terbiasa melakukan, ia mulai tertarik, termotivasi. Ia mulai ‘jatuh hati’ terhadap tindakan-tindakan yang biasa ia lakukan. Barulah, pada tahap terakhir perubahan perilaku individu dipengaruhi konsep, pikiran, pandangan di benaknya mengenai perilaku mana yang baik dan mana yang buruk. (len)

Editor : Bildad Lelan

Sumber: http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/61260/kupangnews/senibudaya/2011/5/5/yang-utama-adalah-keteladanan

Iklan

Semprot

Hepatitis

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-hepatitis

Kartu nama Yuni 2

Pastor dan anggota koor masuk surga?

Mei 3, 2011

Seorang pastor meninggal dunia. Ketika sampai di pintu surga, malaikat bertanya kepadanya: “Apa pekerjaanmu di bumi?” Jawab pastor, “Melayani di Bajawa (Flores). Ia pun dipersilahkan masuk. Lalu datang tiga orang malaikat bertanya kepada tiga orang yang menghadap di pintu surga: “Apa kerja kalian di bumi?” Jawab mereka, “Kami Trio Singers di gereja.” Lalu, malaikat menyuruh mereka bernyanyi dan mereka pun mulai bernyanyi: “Iki mea e, iki mea e ….” Tiba-tiba malaikat berteriak, “Wala, lagu enak la…. Ternyata malaikat itu orang Bajawa. Pantas, banyak orang Bajawa masuk surga. He he he.

Apa arti Iki mea e? Itu artinya seekor burung yang pemalu. Sebuah tarian nagekeo (sebuah kabupaten baru di Flores tengah) dengan lagu Iki Mea sangat mendukung gerak tarian. Tari ini lebih bersemangat dari tari tandak Gawi dari Kabupaten Ende-Lio atau Dolo-dolo dari Flores Timur. Tari ini sama bersemangat seperti tari Jai (Ende-Lio). Tari ini sedang trendy di Flores, NTT. Tari ini mengungkapkan syukur, kegembiraan kalangan muda-mudi. (Kiriman Pak Stef Rossi dari Ende).

Kalau kami bertugas ke Bajawa, misalnya menatar di Kemah Tabor, akan saya usulkan peserta Ngada dan Nagekeo menari tandak dengan lagu Iki Mea. Biar waktu menghadap di pintu surga, kami bisa bernyanyi Iki mea e.

Jika di pintu surga, ternyata malaikatnya pakai kain Timor, lagu apa yang enak didengar? Pasti lagu “Ote be ona na”. Kalau orang Jawa? “Cucak Rowo: Kucoba-coba melempar manggis, manggis kulempar, mangga kudapat …”

Kalau malaikatnya orang Manggarai, Flores? Kalau malaikatnya orang Batak? Kalau malaikatnya orang Papua? ….


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.