ATMI Solo model pendidikan link & match yang hebat

ATMI International Campus di Solo

Tanggal 14 Februari 2011, kami bersama Ir. Anton Doni Dihen MSc (staf ahli khusus Menakertrans), Drs. Frans Meak Parera (koordinator penasihat Gubernur NTT) berkunjung ke ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) Solo, SMK Mikail, dan Solo Techopark (pusat pendidikan vokasional).
Tujuannya adalah untuk mengenal model pendidikan yang benar-benar berciri link & match antara pendidikan dan tuntutan dunia kerja untuk diterapkan dalam konteks daerah yang tertinggal, semisal NTT.

ATMI telah membuka Kampus ATMI di Cikarang, Jawa Barat untuk mendekatkan lembaga pendidikan dengan dunia industri.

Pendidikan model sekolah kerja (Arbeit Schule atau Do-school) ini menganut prinsip 1 mahasiswa menangani 1 mesin.

Belajar bekerja dengan teliti karena dunia industri menuntut presisi

Contoh desain yang dihasilkan mahasiswa. Pada akhir pendidikan, tiap mahasiswa harus menghasilkan sebuah produk kreatif yang laku terjual di pasar industri dalam dan luar negeri.

Romo Clay Pareira SJ sedang menjelaskan produk yang dihasilkan oleh Proyek kewirausahaan I-CELL dalam sistem pendidikan ATMI.

Produk yang siap dikirim sesuai pesanan di dalam dan luar negeri. Sekolah baik SMK Mikail maupun ATMI menyatukan sekolah dan pabrik. Learning by working. Keuntungan produk yang dijual yang dibuat mahasiswa mensubsidi biaya pendidikan sehingga mahasiswa hanya bayar 30% biaya yang seharusnya. Betapa murah pendidikan yang bermutu dengan konsep yang jelas.

Tiap dosen membimbing 5 – 7 mahasiswa sehingga proses belajar berjalan secara efektif.

Memasang lemari, salah satu produk yang laris di pasar.

Solo Technopark sebagai pusat pembinaan vokasional bagi kaum muda hasil kerja sama Pemerintah Kota Solo dengan ATMI. Program training hanya 6 – 9 bulan tapi lulusannya langsung laris manis diterima dunia industri. Ini hanya satu-satunya yang excellent di Indonesia.

Kolam praktik pengelasan dalam air karena di dunia industri dibutuhkan tenaga yang mampu menyelam untuk mengelas badan kapal atau pipa minyak yang bocor. Luar biasa.

Siswa yang memilih program garmen, namun mereka telah dilatih selama 3 bulan untuk mengoperasikan mesin untuk membekali kompetensi mekanika dasar. Kalau mesin jahit atau mesin bordir rusak, mereka bisa memperbaiki sendiri.

Memotong kayu untuk membuat bubuk pewarna dari beragam kayu dan tumbuhan yang ada di lingkungan.

Banyak produk pupuk organik, briket, dan minyak kelapa, bahkan nata de coco yang dihasilkan siswa peserta training.

Contoh mebel yang dihasilkan mahasiswa

Mahasiswa jurusan elektronika. Perempuan pun terjun ke dunia teknik manufaktur.

Guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang sistem dan suasana pendidikan di ATMI Solo, SMK Mikail, dan Solo Technopark, silahkan klik file powerpoint berikut ini!

Gambaran pendidikan di ATMI Solo

Mahasiswa belajar seperti di dunia industri selama 40 jam dalam seminggu. Displin amat ditekankan. Moto yang diterapkan adalah competentia (keterampilan teknis) , conscientia (tanggung jawab moral), dan compassio (bela rasa terutama bagi sesama yang terpinggirkan).

Pakai amano seperti di dunia industri

Satu kesimpulan yang dapat kami tarik dari hasil kunjungan ke Solo ini adalah sbb:

Dengan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan sekolah kerja (Arbeit Schule, Do-school) yang menekankan praktik langsung sebesar 70% kurikulum dan teori 30% kurikulum, baik pendidikan menengah kejuruan 3 tahun seperti SMK Mikail dan pendidikan diploma 3 ATMI Solo 3 tahun maupun kursus singkat 6 atau 9 bulan pada Solo Technopark, mampu dihasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang dituntut dunia kerja, khususnya di sini dunia industri.

Kurikulum SMK dan akademi serta kursus singkat ini dikembangkan berdasarkan tuntutan dunia kerja yang berubah-ubah. Jika di dunia industri jam kerja karyawan 40 jam per minggu ya lamanya belajar disamakan, yaitu 40 jam per minggu. Jika di dunia kerja, 1 karyawan mengoperasikan 1 mesin atau perkakas sambil berdiri, ya praktik di sekolah dilakukan seperti itu. Jika di pabrik karyawan dituntut disiplin ya di sekolah disiplin yang sama ditegakkan. Jika di dunia kerja dituntut karyawan yang kreatif dan inovatif, ya kurikulum sekolah juga menjawab melalui peluang pengembangan kreativitas dan inovasi siswa dan mahasiswa.

Satu hal lagi dapat kita ambil hikmahnya. Biaya sekolah atau kuliah tidak akan mahal, bisa disubsidi jika sekolah atau akademi, politeknik, atau fakultas dijadikan unit produksi.

Ternyata kita mampu membuat pendidikan itu bermutu dan relevan, asalkan kita tidak berkutat mengikuti kurikulum pemerintah yang kaku tetapi mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang sejalan dengan tuntutan dunia kerja.

Jika banyak sekolah dan akademi serta kursus vokasional mengikuti jejak langkah Solo ini, negeri ini tidak perlu terpuruk oleh tenaga kerja tak bermutu, malah bisa mengeskpor tenaga kerja bermutu untuk menjadi TKI di luar negeri.

Iklan

ibpI5li7kjnRD9

Sakit ambeien

Kunjungilah posting ini:

http://sbelen.wordpress.com/2013/05/03/bawang-putih-cuka-apel-madu-jahe-lemon-jantung-sehat-tubuh-bugar/

Gambar spanduk Sano

sano-sembuhkan-ambeien

Kartu nama Yuni 2

About these ads

Tag: , , , , ,

4 Tanggapan to “ATMI Solo model pendidikan link & match yang hebat”

  1. Wilson Sitorus Says:

    wow, keren. Rasanya sebuah training juga demikian. Do More Talk Less. Mudah-mudahan ini bisa jadi contoh.

    Rasanya, lulusan dari berbagai akademi lain akan terproyeksi menjadi kaum pekerja. Kejadian yang kerap ditemui, lulusan dari akademi-akademi hanya menjadi loncatan untuk ambil S1, bahkan coba-coba S2 terus S3. Sehingga, harapan penggagas akademi sejenis ini akan menjadi berbeda Karena lulusan akademi yang kemudian jadi S1 dia akan duduk seperti kaum bangsawan.

    Argumennya nanti, mencoba mengubah garis tangan. Padahal, di awalnya, mendaftar di akademi-akademi merupakan pilihan. Bagaiman kontrolnya, ya?

    Terima kasih pak Belen

  2. Yustinus Sri Yanto Says:

    Saya sejak dahulu mengagumi pendidikan di ATMI baik teknik maupun disiplinnya, dulu pernah mengadakan traning saya dulu memang pernah ikut tapi tidak diterima. Semoga ATMI tetap eksis dan selalu memberi traning bagi industri kecil.

  3. bejo Says:

    Semoga para alumninya tetap rendah hati.

  4. dedi dwilaksana Says:

    semoga solo bisa menggandeng dan menularkan manajemennya ke kota kami (jember) karena kami sangat membutuhkan model pendidikan yang diterapkan di ATMI Solo…terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: