Opa Medon & Oma Timu
Tanggal 5 Juni 2010 Opa Medon Lawotan wafat pada usia 80 tahun di Wailebe, Adonara, Flores. Pada tanggal 15 Juli 2010 Opa Pater Yan Lali wafat pada usia 92 tahun di Jakarta. Untuk mengenang jasa kedua opa ini, kami persembahkan puisi ini bagi kedua opa yang telah berbuat baik bagi banyak orang semasa hidupnya melalui profesi masing-masing dengan caranya sendiri.
Eulogy for My Grandfather
God saw you getting tired
And a cure was not to be,
So He put His arms around you
And whispered “Come with Me.”
With tearful eyes we watched you suffer
And saw you fade away.
Although we love you dearly,
We could not make you stay.
A golden heart stopped beating,
Laying loving hands to rest.
God broke our hearts to prove to us
He only takes the best.
(Anon.)
Sumber: http://www.vikingkarwur.com/blog/archives/general/index.php
Pujian untuk Opaku
Tuhan melihatmu kian capek
Dan ketika pengobatan sudah tak memungkinkan
Maka Ia merangkulmu dengan lengan-lenganNya
Dan berbisik “Datanglah bersamaKu.”
Dengan linangan air mata kami menyaksikan engkau menderita
Dan melihatmu pergi untuk selamanya.
Walau kami amat mencintaimu,
Kami tidak dapat menahanmu tetap tinggal.
Sebuah jantung emas berhenti berdetak,
Dengan tangan-tangan kasih yang terkulai beristirahat.
Tuhan menyakiti hati kita untuk membuktikan kepada kita
Ia hanya mengambil yang terbaik.
(Anonim)
Kaitkata: jasa, mencintai, Opa Medon Lawotan, Opa Pater Yan Lali SVD, profesi. grandfather, pujian


Juli 20, 2010 pukul 3:34 pm |
Luar biasa, trims Sil
Juli 20, 2010 pukul 11:27 pm |
Terima kasih om Sirilus untuk puisinya. Ekspresi CINTA yang tak bertepi. Memang Tuhan harus kembali merangkul mereka demi kita.