Quem di diligunt, adulescens moritur. Orang yang dicintai Tuhan meninggal waktu masih muda. (Plautus, Bacchides, IV, 7, 18).
Posting ini kami persembahkan kepada Pak Subarjo, teman pakar Matematika di Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional yang meninggal mendadak pada hari Minggu, 18 April 2010.
Pak Subarjo (paling kiri) sedang mengamati permainan melepas tali yang diikat pada tangan dua orang teman dalam training staf Pusat Kurikulum baru-baru ini.
Pak Barjo dan teman sekelompoknya sedang memasang potongan kertas manila hasil pengukuran lingkar kepala, bahu, tangan, lingkar pinggul, kaki, dan tulang belakang sampai kepala pada seorang anggota kelompok dalam kegiatan topik Matematika dalam penataran staf Puskur.
Pak Subarjo adalah orang yang masih muda usia, persepsi, dan pertimbangannya masih prima, dan kompetensinya dalam Matematika masih amat kita butuhkan.
Selamat jalan, Pak Barjo. Kebaikanmu tetap kami kenang. Berjalanlah dengan tenang dengan perasaan bahagia ke tempat yang dijanjikan. Semoga istri dan anak-anak tercinta tabah dan dapat melanjutkan kehidupan ini dengan amal dan kebaikan sepeti yang telah Pak Barjo tunjukkan kepada kami.
Tampaknya cerpen Anton Chekhov ini relevan untuk mengenang kepergian Pak Barjo karena hidup ini adalah sebuah taruhan.
Anton Chekhov adalah seorang sastrawan Rusia yang terkenal (1860-1904), terutama lewat cerpen dan naskah dramanya. Ia dipandang sebagai salah seorang cerpenis Rusia yang utama. Jasanya yang begitu besar mendorong manusia merefleksikan makna kehidupan membuat kita merasa kasihan atas kematiannya akibat derita penyakit TBC. Setelah karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, ia mulai dikenal dunia.
Cerpennya yang berjudul “Taruhan” (“The Bet”, judul dalam bahasa Inggris) sungguh menggugah pemaknaan hidup. Cerpen ini sungguh menohok makna yang didengung-dengungkan epikurisme dunia kapitalis: Carpe diem! Carpe noctem! Nikmatilah hidup ini sekarang ini juga, hari ini juga, malam ini juga!
Menurut hasil riset otak, inilah imbalan (reward) tubuh manusia yang utama!
Dan, inilah 5 imbalan sosial utama yang didambakan manusia!
Tokoh pengacara yang bertaruh uang 2 milyar rubel dengan si bankir kaya dalam cerpen “Taruhan” ini menolak semua imbalan yang didorong motivasi intrinsik guna memicu dopamine dalam otak manusia dan yang dipuja-puji dunia kapitalis. Ia mempertaruhkan kebebasannya, memilih dipenjara, dikurung 15 tahun untuk merebut uang 2 milyar. Uang yang dijanjikan kapitalisme, untuk membeli makanan, minuman, seks, narkoba, rokok, dan zat adiktif lainnya atas nama konsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Uang yang dijanjikan kapitalisme global sekarang untuk menikmati imbalan sosial, seperti puji-sanjung, pergaulan jetzet dan relasi sosial, tahta, sentuhan wanita atau romantisme pria.
Bagaimana akhir cerita ini? Silahkan baca file powerpoint ini!
Taruhan (The Bet) oleh Anton Chekhov
Kaitkata: drama, kapitalisme, makna hidup, Pusat Kurikulum, Puskur, Rusia, seks, Subarjo, tahta, zat adiktif







April 30, 2010 pukul 10:36 am |
Pak Belen, mohon izin me-link blog njenengan. Tks.
Mei 1, 2010 pukul 4:20 pm |
Dear Anwar, terima kasih banget. Setuju 110% me-link blogku. Matur nuwun. Salam hangat dari Bontang!
Juni 24, 2010 pukul 10:04 pm |
salam kenal…
Blognya keren, artikelnya juga keren keren dan mantao mantao,,
thanks, ditugggu kunjungan baliknya.