Bunga anggrek & gelombang cinta di rumahku

Bunga anggrek ini sudah berusia lebih dari 7 tahun. Bunga ini dibeli istriku, Dewi Sumarwiyati, 3 bulan sebelum meninggalnya karena tabrakan mobil di terorongan Cawang, Jakarta Timur.

Keempat anakku kurang memperhatikan bunga anggrek ini dan sampai sekarang tak ada yang mengetahui nama jenis anggrek ini.

Tempat ini juga dibeli istriku untuk menanam berbagai anggrek kegemarannya. Namun, karena tak diperhatikan kami, satu demi satu mati.

Namun, bunga anggrek yang berada pada tempat yang tertinggi tetap survive. Dan, setiap kali ia menampakkan bunganya yang indah.

Walaupun kami amat memperhatikan tanaman sebagai bagian dari perjuangan menanamkan kesadaran lingkungan hidup bagi guru-guru dan para siswa yang kami bina, bunga anggrek ini tetap merana. Paling-paling terkadang Pak Karyo, Pak Bon yang datang merawat tanaman di halaman rumah memindahkan bunga ini agar mendapatkan terik mentari. Pak Karyo pun tak tahu cara merawat anggrek.

Tidak seperti manusia yang tidak diperhatikan dan dirawat, bunga anggrek ini sungguh tahan banting.

Bunga anggrek ini seolah mencerminkan kasih sayang istri dan mamanya anak-anak terhadap kami dari tempat bahagianya di akhirat.

Pohon di belakang bunga anggrek ini juga ditanam istriku setelah ia mengusulkan mencabut pohon sejenis yang tumbuh subur sebelumnya. Saya setuju dicabut tapi harus diganti dengan jenis tanaman yang sama.

Terkadang waktu duduk di teras, kami kagumi ketabahan dan daya tahan banting anggrek ini. Ia memberi pelajaran kepada kami, bahwa dalam interaksi dengan orang lain, walaupun kita kurang atau tidak diperhatikan, disepelekan, tapi the show must go on, the life must go on. Take it easy.

Hidup ini dihiasi gelombang naik dan turun. Ada ups and downs silih berganti. Tapi, hidup ini harus jalan terus.

Inilah bunga gelombang cinta yang ditanam pada dua pot pada hari yang sama dengan bunga anggrek ini. Semula kami tak tahu namanya. Namun, waktu harganya melambung gila-gilaan, tiap kali tetangga dan orang yang tak dikenal mengintipnya. Dan, kemudian beberapa orang menawar dengan harga yang tinggi. Aku bilang, walaupun harganya 1 milyar rupiah, saya tak akan melepas bunga ini. Karena, bunga ini adalah bunga kenangan peninggalan istriku dan mama anak-anakku.

Gelombang cinta ini juga tetap tahan banting walaupun hanya sekali-sekali dirawat. Buahnya telah dibawa keluarga dan kenalan untuk dijadikan bibit untuk ditanam di rumah mereka atau bahkan dijual.

Bunga anggrek dan gelombang cinta mengajarkan kepada kami untuk tetap optimis menghadapi hidup ini. Untuk merawat cinta dalam gelombang tantangan kehidupan. Karena kasih adalah motivator utama hidup yang dinamis, hidup yang bermanfaat bagi orang lain, betapa pun kecilnya.

About these ads

Tag: , , ,

Satu Tanggapan to “Bunga anggrek & gelombang cinta di rumahku”

  1. emanuel kebe Says:

    Memang begitulah kehendak SANG KEHIDUPAN, kita harus berkembang dan berbuah dengan indah sesuai dengan jalan, talenta, dan panggilan kita. Untuk ‘memancarkan’ keindahan kasih-NYA kita tidak perlu tergantung kepada tanggapan orang lain.
    Justru akan sangat membahagiakan apabila kita sudah semaksimal mungkin mengembangkan semua rahmat yang kita terima untuk kebahagiaan sesama.
    SELAMAT BERKARYA, PAK. SUKSES SELALU. GBU n Fam….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 68 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: