Anak-anak SD Geraga, Sipoholon, Tapanuli Utara ini bermain dengan pasir tanpa disuruh. Mereka memanfaatkan pasir yang dipersiapkan bagi para guru untuk membuat model IPS dalam penataran.
Bermain-main memanipulasi benda alamiah lebih menarik minat anak daripada mainan buatan pabrik.
Buat apa ini, nak? Ungkapan spontan budaya Batak?
Acara terakhir penataran Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan belajar aktif pendidik dari 3 SD model ditambah guru dan kepala sekolah dari 7 SD lain di Kecamatan Sipoholon tanggal 19 – 22 Januari 2010 diisi dengan kegiatan membuat model lokasi wisata yang pernah dikunjungi.
Penataran ini adalah kegiatan terakhir dari program 6 bulan pengembangan SD model melalui pendampingan lewat inhouse training dari akhir Juli 2009 s.d. akhir Januari 2010. Ibu Nia Susanti bekerja secara kontinu selama 6 bulan mendampingi para guru dan kepala sekolah pada 3 SD ini. Kami datang secara berkala untuk membantu pendampingan ini. Ini adalah program bantuan keluarga Gunawan Hutauruk, pemilik Penerbit Erlangga.
Berikut ini kami sajikan foto-foto kegiatan membuat model dari pasir dan peta dari objek-objek pada model yang dihubungkan dengan tali rafia. Ini adalah salah satu ide kegiatan belajar IPS.
Giliran para guru berkreasi sesuai dengan imajinasinya
Hands-on experience atau pengalaman langsung membuat model akan menstimulasi kerja otak. Praktik ini akan mendorong para guru untuk menerapkannya kepada anak-anak
Bekerja sama adalah salah satu ciri penerapan pendekatan belajar aktif
Kelompok ini sedang membentuk Danau Toba dan Pulau Samosir di tengahnya
Anak perempuan ini tertarik memperhatikan betapa para guru gembira bermain pasir. Jika orang dewasa senang memanipulasi pasir, apalagi anak-anak.
Ibu kepala sekolah ini terlibat membuat model. Tanpa dorongan kepala sekolah mustahil diharapkan kemajuan inovasi di sekolah yang dilakukan para guru.
Teori belajar konstruktivisme menandaskan bahwa belajar adalah mengalami.
Berkotor tangan adalah kebiasaan yang perlu ditanamkan bagi para guru dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Menghubungkan objek pada model dengan gambar simbol / legenda pada peta.
Guru saja bangga terhadap hasil pekerjaannya, apalagi para siswa.
Mungkin ini pengalaman pertama yang mereka alami dalam penataran yang biasanya didominasi ceramah. Penataran yang diisi dengan ceramah dan ceramah membuat apa yang masuk dari telinga kiri langsung keluar lewat telinga kanan.
Inilah hasil karya kami!
Dari imajinasi ke arah model lewat aktivitas melakukan. Agar tahu tentang model dan peta, praktikkan membuat model dan peta.
We are the best!
Keceriaan adalah emosi senang yang turut memotivasi belajar.
Inilah hasil maksimal yang telah kami buat!
Kaitkata: belajar aktif, budaya Batak, Danau Toba, Erlangga, inhouse training, IPS, konstruktivisme, MBS, membuat model, membuat peta, Pulau Samosir, Sipoholon, Tapanuli Utara



















Januari 27, 2010 pukul 4:20 am |
salam kenal pak. bermanfaat sekali tulisannya. ternyata yang dianggap biasa-biasa saja kalau diarahkan bisa jadi luar biasa pak ya. Main-main ke blog saya.
Januari 27, 2010 pukul 10:46 am |
Trims, Fentik. Orang sering lupa bahwa otak anak lebih senang berinteraksi dengan benda-benda alamiah, misal air, tanah, pasir, lumpur, batu, kelikir, kayu, dedaunan karena bentuknya bervariasi, belum baku, dan mudah dimanipulasi sesuai imajinasi anak. Mengapa kita harus keluarkan banyak uang untuk membeli mainan buatan pabrik yang cenderung cepat membosankan anak? Mengapa kita menyia-nyiakan kekayaan alam ciptaan Tuhan yang tersedia secara berlimpah di sekitar kita?
Sudah saya kunjungi blognya. Bagus, bervariasi topiknya, dan senang ada perhatian untuk meningkatkan kreativitas anak-anak. Be the best!
September 15, 2010 pukul 6:41 pm |
mantap….
yang alami memangg lebih mantap, entah kenapa tiba2 hasil pencarian saya menuju blog anda, dan ternyata tidak sia2, enak bacanya, kebetulan saya pernah tinggal di daerah tapanuli /siborongborong,selama 1.5 tahun,….
success buat anda,…
salam kenal..
berman sihombing…..