Gus Dur adalah seorang manusia yang langka. Dilahirkan, diasuh, dan dibesarkan, dan dididik dalam lingkungan yang relatif ekslusif, yaitu habitat Islam. Namun, riwayat pengabdian dan perjuangannya bergerak secara bertahap dari lingkungan Islam yang eksklusif ke arah lingkungan yang makin inklusif, terbuka, dan demokratis. Ia adalah seorang yang menggambarkan secara jelas dan tegas tanpa diragukan sebagai pribadi yang berkepribadian “kenabian”.
Pembela hak asasi manusia
Gus Dur berfungsi profetis. Ia mampu keluar dari sekat-sekat habitat agamanya. Ia melihat orang-orang yang tak seagama, tak sesuku, tak sebangsa, dan tak sebudaya dengannya sebagai manusia-manusia yang “dirahmati”, yang memiliki hak-hak yang sama sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat kemanusiaan.
Gus Dur yang jenaka. Orang yang humoris umumnya memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi.
Gus Dur bukanlah seorang yang hanya toleran kepada orang yang beragama lain. Ia menghormati orang-orang yang beragama lain. Lebih jauh lagi, Gus Dur bekerja sama dengan orang-orang dari agama, suku, bangsa, dan budaya lain berdasarkan prinsip saling menghormati. Dan, jauh di lubuk hatinya, ia digerakkan oleh rasa kasih sayang yang amat besar kepada orang-orang dari agama, suku, bangsa, dan budaya lain. Dan rasa kasih sayangnya ini ia wujudnyatakan dalam garis perjuangannya yang pantang mundur dan pantang menyerah untuk membela kaum minoritas yang “tertindas”, “teraniaya”, atau “terpinggirkan”, mulai dari penganut Ahmadiyah, kelompok Kristen dan Katolik, kelompok Hindu dan Buddha, kelompok keturunan Tionghoa, sampai ke kelompok ex-PKI.
Gus Dur, pembela kaum minoritas
Karena itu, tak mengehrankan mengamati, bahwa kaum minoritas yang sebangsa dan setanah air yang hidup di bumi Nusantara ini amat dekat dan “berlari” meminta perlindungan dan memohon Gus Dur untuk membela hak-haknya yang dilanggar sebagai sesama warga NKRI. Lebih jauh lagi, Gus Dur malah tidak mengambil sikap frontal kepada “musuh”, malah berusaha merangkul “musuh” melalui gagasannya untuk membuka hubungan diplomatik dengan Negara Israel. George Soros sebagai pebisnis yang ikut mengobrak-obrik nilai mata uang rupiah sampai Indonesia terjatuh ke dalam krisis moneter malah diangkat menjadi penasihat ekonomi dalam era kepresidenan Gus Dur.
Gus Dur & George Soros
Dari sudut pandang sikapnya membela kelompok minoritas dan upayanya merangkul “musuh”, Gus Dur telah menjalankan peran sesuai dengan zamannya, yang berbeda dengan zaman kakeknya sebagai pendiri NU dan zaman ayahnya sebagai salah seorang pendiri bangsa Indonesia. Tugasnya telah ia selesaikan secara paripurna.
Gus Dur, garis perjuanganmu jelas. Walaupun mata Anda buta, tetapi Anda melihat kepentingan rakyat Indonesia lebih jelas dari para pemimpin yang bermata awas. Selamat jalan, Gus Dur!
Baca juga:
http://sbelen.wordpress.com/2009/12/31/kenangan-humor-joke-cerita-lucu-gus-dur/
Kaitkata: Gus Dur & musuh, Gus Dur humoris, kenabian, pembela minoritas, profetis




![2006-01-GD-Soros-01[1]](http://sbelen.files.wordpress.com/2009/12/2006-01-gd-soros-011.jpg?w=450)
Januari 1, 2010 pada 11:21 pm |
Nah, tokoh yang lintas SARA seperti ini selalu mendapat tempat yang luar biasa pada tatanan nasional bahkan internasional. Tokoh seperti ini, dibesarkan dulu dalam organisasi tertentu, dan memakainya sebagai instrumen atau batu loncatan ke spektrum yang lebih luas. Banyak tokoh muda terlalu eksklusif, tidak ada instrumen, mengambang di media massa, tapi tak ada organisasi yang mendukungnya.
Juli 15, 2010 pada 5:14 am |
Aku fans berat beliau forever……
Gitu aja kok repot….