Belajar tidak selamanya dalam posisi duduk. Mau duduk atau berdiri yang penting belajar. Para guru dan kepala sekolah dalam penataran belajar aktif dilatih bekerja sama dalam kelompok agar mampu menerapkan belajar kelompok di sekolahnya.
Orang Ambon dan Maluku gemar bernyanyi, berdansa, dan menari. Potensi ini hendaknya dimanfaatkan untuk menjadikan kegiatan belajar anak dinamis dan menyenangkan. Menurut riset otak: Jika Anda ingin meningkatkan prestasi anak dalam belajar, tambahkan gerakan dalam proses belajar-mengajar. Resep yang amat sederhana tanpa mengeluarkan biaya apa pun. Gratis!
Lokakarya yang diselenggarakan Save the Children ini merupakan pemadatan dua tema yang sebenarnya membutuhkan waktu pelatihan 2 minggu (12 hari kerja). Namun, karena peserta bersemangat berpraktik belajar aktif, sasaran menyusun silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan bagaimana menerapkan pendekatan belajar aktif dapat digabungkan dan bisa dikebut dalam waktu 6 hari pelatihan.
Seorang guru muda mengajari kepala sekolah cara mencuci tangan dan mengelap tangan dengan benar.
Ini adalah pajangan jaringan tematik dengan memilih kompetensi dasar yang cocok. Dari tiap kompetensi dasar / kompetensi konkret, dikembangkan gagasan-gagasan kegiatan belajar aktif. Kemudian, kegiatan-kegiatan belajar yang terpilih diurutkan dan diperkirakan alokasi waktunya.
Guru dapat menggunakan pendekatan dari garis finish ke garis start, dengan menyusun indikator dan penskoran menjadi alat penilaian kompetensi yang berciri kualitatif sebelum mengembangkan kegiatan-kegiatan belajar untuk mengembangkan / melatih kompetensi itu.
Bernyanyi, bermain gitar, dan menari selalu menghiasi kegiatan penataran ini. Peserta tak merasa letih karena musik dan nyanyian menjadi terapi penyegar tubuh dan otak.
Bekerja sama membuat jaringan tematik. Kalau bekerja sambil duduk di lantai lebih menyenangkan, mengapa harus duduk tegak di kursi. Jika sebagai guru Anda menerapkan hal ini, anak-anak yang bergaya belajar otak kanan akan bersemangat belajar karena posisi inilah yang lebih mereka senangi.
Menempel potongan-potongan kompetensi dasar pada ujung garis-garis panah dari kotak tema di tengah. Kali ini kepala sekolah-lah yang lebih aktif daripada guru.
Poster teks lagu yang dinyanyikan dengan irama lagu “Naik-naik ke puncak gunung” untuk belajar matematika.
Poster teks lagu untuk mendorong anak agar gemar belajar matematika.
Ibu guru ini sedang dinilai dengan menggunakan alat penilaian berisi indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen.
Suara lebih bagus jika bernyanyi dalam posisi berdiri. Sang dirigen sedang dinilai dengan menggunakan kriteria berikut ini.
Ini adalah contoh alat penilaian yang sesuai dengan indikator-indikator kompetensi memimpin lagu sebagai dirigen. Skor maksimum untuk tiap indikator disesuaikan dengan bobot indikator tersebut.
Para guru sedang dilatih kompetensi melakukan wawancara untuk mencari data tentang sejarah berdiri dan perkembangan hotel atau resort ini.
Mewawancarai petugas cafe dekat kolam renang untuk mencari data tentang keuntungan yang diperoleh.
Bekerja sama membuat sebuah bangunan atau ciptaan yang indah menurut kelompok.
Status kepala sekolah dan guru senior untuk sementara dilepas.
Belajar aktif sering menuntut aktivitas berpikir tinggi.
Belajar sambil minum dan makan makanan kecil. Anak bergaya belajar otak kanan senang belajar sambil makan (ngemil) dan minum. Di sekolah sebaiknya anak diperbolehkan membawa tempat minumnya ke dalam kelas. Kapan saja merasa haus, anak langsung minum air karena otak yang kekurangan air akan lambat bekerja. Sebanyak 80% volume otak terdiri dari air. Di sebuah SD di Kota Sukabumi, Jawa Barat, bahkan di tiap kelas disediakan dispenser. Anak-anak sekelas urunan membeli air isi ulang. Mengapa dalam penataran guru dihidangkan air minum, sedangkan di sekolah para siswa malah menaruh tempat minumnya di luar kelas.
Peserta tampak waspada dan bekerja cepat karena waktu yang disedikan untuk kegiatan ini hanya 15 menit. Memberi batasan waktu bagi anak untuk menyelesaikan sebuah kegiatan amat penting untuk memanfaatkan waktu secara efektif. The “enemy” of active learning approach is time, time and time. “Musuh” pendekatan belajar aktif adalah waktu yang tak cukup. Karena itu, pandai-pandailah mencari kiat mempercepat kegiatan anak.
Ada yang menunjuk, ada yang membaca, ada yang memegang kertas, dan ada yang menulis. Kerja sama yang serasi!
Kadang-kdang perlu diterapkan kegiatan kelompok besar. Namun, pada umumnya kelompok yang terdiri dari lebih dari 6 orang cenderung mengarah ke “masa” atau “crowd”.
Tampil menjelaskan hasil kerja kelompok di depan.
Tiap orang menyumbang melalui peran yang berbeda.
Anak Maluku pasca-kerusuhan sosial menanti uluran tangan inovasi belajar aktif agar berani menatap dan menapaki masa depan yang penuh tantangan dan kejutan. Semoga Dinas Pendidikan meneruskan prakarsa dan rintisan Save the Children ini!
Belajar aktif tak memerlukan alat bantu pelajaran yang mahal. Dengan lilin malam saja dapat dilakukan beragam kegiatan belajar aktif yang menarik minat anak.
Tanaman dalam pot yang ditanam dan dirawat anak dapat ditaruh di gang depan ruang kelas di SDN Suli, Kabupaten Maluku Tengah.
Si nona Ambon manise masih tampak ceria setelah melakukan kegiatan belajar aktif.
Berilah kesempatan dan doronglah anak untuk mengekspresikan dirinya secara bebas.
Larangan “jangan” atau “tidak boleh” mematikan rasa ingin tahu. kreativitas berpikir, dan kegemaran anak melakukan eksplorasi. Anak-anak akan berekspresi bebas jika merasa aman.
Inilah contoh ruang pertemuan sederhana di sekolah yang bersih dan ditata secara menarik. Kampus lembaga pendidikan guru di universitas dapat berkaca kepada para kepala sekolah dan guru SD.
Pajanglah karya siswa di ruang guru, di dinding luar kelas, sampai ke ruang kepala sekolah. Betapa bangga anak. Kebanggaan yang bakal terbawa sebagai kenangan manis seumur hidup.
Betapa lebih lengkap jika dinas pendidikan mengusahakan perangkat komputer dan jaringan internet di sekolah, dimulai dulu dari kepala sekolah dan para guru.
Sebagai fasilitator, guru berkeliling dan membantu anak atau kelompok yang memerlukan arahan dan umpan balik. Kosa kata seperti “bodoh”, “dungu”, “bebal”, “nakal”, “bandel”, “kurang ajar”, apalagi “anjing”, “babi”, “binatang” harus dibuang jauh-jauh, tak boleh terucapkan dari mulut guru dan terdengar telinga anak di ruang kelas dan dalam proses belajar-mengajar.
Bagi lemnya, dong! Lem amat penting untuk belajar aktif. Tak ada lem, pakai saja nasi, bubur, atau getah pohon yang lengket.
Nyong papua dan nona ambon berbaur dalam kerja sama tanpa membedakan asal-usul.
Dalam kelas belajar aktif, duduk berbaris seperti ini seharusnya sudah “dimuseumkan”.
Kompleks sekolah ini luas. Di halaman sekeliling sekolah perlu ditanami pohon-pohon perindang yang produktif, seperti jambu mente, mangga, asam, nangka. Tiap pohon dengan radius daun rimbun 4 m memberi supply oksigen bagi 10 orang.
Toilet sekolah amat penting. Tersedia air dan sabun pencuci tangan dan sebaiknya ada toilet untuk anak pria dan wanita yang terpisah.
Katong nona dan nyong Ambon kasi salam untuk anak-anak SD di seluruh Indonesia. Dangke (terima kasih) Save the Children!
Koleksi foto: Miftahudin & S.Belen
Kaitkata: alat penilaian, bandel, bodoh, dinas pendidikan, ekspresi, indikator, KTSP, oksigen, Otak, pajangan, pasca-kerusuhan, sabun, Save the Children, tematik, toilet









































Februari 1, 2009 pukul 8:19 am |
salam kenal dari kami, kami juga ingin anak murid kami menjadi aktif dalam belajar.terima kasih atas tulisannya, semoga dapat membantu kami dalm meningkatakan kualitas mengajar kami wassalam
Februari 1, 2009 pukul 8:53 am |
Okey, Save the Children, but The Teachers Before!