Bocah Berry (Barack Obama) gembira pertama kali bersepeda roda tiga.
Posting saya tanggal 5 November 2008 berjudul “Barack Obama sang presiden: Potensi kecerdasan otaknya berkembang pesat waktu di Jakarta.” Isinya tentang bagaimana kebutuhan ‘makanan pokok’ otak anak, dalam hal ini Obama kecil selama hidup 4 tahun di Jakarta, yaitu oksigen, makanan bergizi, informasi, dan kasih sayang. Selain itu, fokus tulisan adalah tentang bagaimana peran gerakan dan permainan, terutama permainan tradisional Indonesia, khususnya anak-anak Jakarta masa itu, dalam perkembangan otak Obama kecil. Terakhir, saya tunjukkan jasa ayah tirinya Lolo Soetoro dalam memenuhi kebutuhan perkembangan otak Obama. Itulah sumbangan Indonesia bagi Obama yang diberikan ayah tirinya. Hal itu berdasarkan pengakuan Obama sendiri dalam buku memoarnya.
Post ini antara lain dikomentari Ricky sbb: “Judul yang bagus sekali, tetapi jangan dilupakan bahwa obama pada dasarnya memang sudah mempunyai intelegensi yang tinggi. Mudah-mudahan kita sebagai orang Indonesia jangan terlalu Ge Er karena sudah disinggahi Obama selama 4 tahun, karena bapak tirinya dan adik tirinya orang Indonesia, atau ada Hussein di nama tengahnya (bagi yang muslim) walau ia seorang christian. Semua itu background beliau, nggak ada yang tahu secara pasti kan Obama jadi seperti sekarang karena Indonesia, (kecuali dia bilang sendiri bahwa dia bisa jadi presiden karena dulunya pernah di Indonesia). Obama menjadi saat ini karena dia “adalah Obama”, bisa jadi kita (Indonesia) hanya sebagian kecil saja dari berbagai hal penting yang ada dalam benaknya.”
Menanggapi komentar ini perlu saya memberikan latar belakang pendapat saya. Saya telah tunjukkan juga gambaran inteligensi Obama yang tinggi karena kebetulan ayah dan ibunya memperlihatkan tanda-tanda inteligensi yang tinggi, dan ayah tirinya pun demikian seperti tergambar pada kecerdasan Maya Soetoro. Hal itu disinggung pada keterangan di bawah foto Maya Soetoro. Karena itu, belum saya jelaskan bagaimana kemungkinan terjadinya pewarisan itu. Menurut teori genetika, IQ anak lelaki diperoleh dari gen IQ ibunya. Jadi, jika IQ ibu kandungnya Ann Dunham misalnya superior, kemungkinan besar IQ Obama diturunkan dari ibunya, kecuali gen ibunya resesif IQ Obama diperoleh dari gen ayahnya yang dominan. Pewarisan IQ dari ayahnya tampaknya tak terjadi karena ternyata IQ ibunya tinggi. Salah satu evidensi yang terlihat adalah kemampuan ibunya meraih gelar PhD (Doktor). Dalam family tree Obama terlihat juga bahwa turunan jauh Obama dari pihak ibunya ada yang pernah menjadi tokoh politik. Hal ini akan saya telusuri lebih jauh.
Taraf IQ Lolo Soetoro kemungkinan besar tinggi juga antara lain terlihat dari prestasi belajarnya sebagai mahasiswa Geografi UGM yang bagus sampai kemudian dikirim Dinas TNI Angkatan Darat mengambil master di University of Hawaii. Yang lebih jelas terlihat adalah evidensi IQ Maya Soetoro yang kemungkinan besar tinggi karena ia berhasil juga meraih gelar Doktor walaupun sudah berkeluarga. Jadi, kemungkinan besar IQ Maya diwariskan dari gen ayahnya Lolo Soetoro. Pendapat saya ini dapat divalidasi dengan mengamati hasil tes IQ Obama, ayah dan ibunya, Maya, dan Lolo Soetoro. Jika di Indonesia masa itu data ini tak ada karena belum populernya tes IQ masa itu. Mungkin juga hal ini terjadi di Amerika Serikat. Dari keluarga ini, yang masih hidup hanyalah Obama dan Maya. Jika belum ada data IQ, tes masih bisa dilakukan sekarang. Data IQ Obama tidak dapat dianggap sahih berdasarkan pernyataan atau cerita Obama.
Obama di tengah-tengah teman-temannya di SD Besuki, Menteng. Betapa pun kecil, mereka telah turut menyumbang proses pembentukan karakter Obama. Presiden AS yang terkenal adalah yang menunjukkan diri sebagai manusia yang berkarakter, a man of character.
Menurut teori genetika, anak yang terlahir dengan IQ tinggi (katakanlah genius), belum tentu perkembangan potensi kecerdasannya maksimal tercapai jika faktor lingkungan (environment) tidaklah mendukung. Banyak genius yang menjadi gelandangan karena faktor lingkungan tidak mendukung. Dalam tulisan itu, saya gambarkan bagaimana faktor lingkungan keseharian Obama di Jakarta mendukung proses perkembangan potensi kecerdasannya. Faktor lingkungan itu saya soroti dari segi makanan pokok otak, terutama yang menyangkut makanan bergizi (tahu dan tempe) dan kasih sayang. Perihal kasih sayang yang diperoleh Obama dari ibu dan ayah tirinya Lolo Soetoro terungkap dalam buku memoar “The dreams from my Father” dan cerita teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki. Berita koran hari-hasi ini mengemukakan cerita keluarga, Noeke Soegio,keponakan Lolo Soetoro yang tinggal bersama keluarga pamannya Lolo Soetoro di Menteng Dalam, dan dua anak Lolo Soetoro, Yusuf Aji yang lahir tahun 1981 dan Ayu Soetoro yang lahir tahun 1984, hasil perkawinannya dengan Erna Kustina, mahasiswa Fakultas Hukum Undip. Tak tampak fakta kurangnya kasih sayang Lolo Soetoro kepada Obama seperti gejala umum tentang kejamnya ayah tiri. Perlu diingat pula bahwa dalam tradisi pengasuhan orang Jawa, tak ada kebiasaan orang tua Jawa memukul dan menyiksa anak-anaknya.
Lolo Soetoro, yang melatih Obama bertinju untuk tampil berani membela diri, Ibu Obama yang memangku Maya, dan sang bocah bonsor Berry (Barack Obama) di Jakarta. Si Berry senang menggoda teman-teman wanita dengan menunjukkan ulat bulu dan teman-teman laki-laki dengan menunjukkan anak buaya berukuran 70 cm.
Dari tulisan posting itu, saya menunjukkan juga benang merah kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan neneknya di Hawaii dengan yang diperolehnya di Jakarta. Dalam posting saya sebelumnya berjudul “Kematian nenek Obama, rahmat tersamar bagi sang cucu & data keluarga Obama”, saya juga menunjukkan kasih sayang yang diperoleh Obama dari kakek dan terutama neneknya di Hawaii sejak Obama dikirim ibunya untuk diasuh kakek ke Hawaii tahun 1971.
Dalam berbagai postingku tentang Obama saya sama sekali tidak mengharapkan Indonesia mendapatkan balas jasa Obama sebagai presiden. Andaikan dalam masa pemerintahannya, Indonesia benar-benar menganggu kepentingan AS dalam kadar semisal Afganistan dan Irak, bisa saja Obama memerintahkan menyerang Indonesia. Variabel bahwa ia pernah 4 tahun hidup di Indonesia tak dapat dianggap signifikan untuk tak menyerang Indonesia. Bahkan, jika Kenya pun menghalangi kepentingan strategis AS, Kenya pun akan diserang. Sepak terjang AS menunjukkan negara-negara mana saja yang mengganggu kepentingan AS dalam kadar yang serius, presiden-presiden AS tak segan-segan memerintahkan penyerangan atau invasi militer.
Maya Soetoro yang berdarah Indonesia memeluk abangnya yang baru lulus SMA di Hawaii. Turunan blasteran Kenya dan ‘bule’ merangkul adiknya yang blasteran Indonesia dan ‘bule’. Lambang hubungan tiga ras yang diharapkan dunia disumbangkan Obama dalam masa pemerintahannya untuk membuat umat manusia tidak saling mendikriminasi.Peace is beautiful.
Saya tak setuju jika kita mengharapkan balas jasa Obama kepada Indonesia karena ia pernah hidup di Indonesia. Naiknya Obama menjadi presiden diharapkan menguntungkan Indonesia. Tetapi, mengharapkan yang berlebihan, apalagi dianakemaskan, menurut saya naif. Yang penting, kita sudah memberi melalui Lolo Soetoro dan teman-temannya di SD Fransiskus Asisi dan SD Besuki Menteng, pars pro toto, yang mewakili masyarkat Indonesia. Memberi lebih terhormat dan mulia daripada mengharapkan balas jasa. Jika balas jasa itu kita tuntut hilanglah makna pemberian itu.
Salam hangat dari Pulau Bacan (8 jam pelayaran dari Ternate), Maluku Utara!
Tag: faktor lingkungan, genetika, IQ, Karakter, Lolo Soetoro, Maya Soetoro, peace, SD Besuki Menteng, SD Fransiskus Asisi





November 12, 2008 pukul 6:16 am |
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
Januari 20, 2009 pukul 9:22 am |
SELAMAT BARACK HUSSEIN OBAMA!!
Rangkaian kalimat dengan kata-kata indah bergaya ku tuliskan kepadamu. Taburan ratna mutu belaian cinta ku ucapkan kepadamu, sebagai pernyataan selamatku atas kemenanganmu, presiden amerika ke-44, Barack Obama.
Suatu pernyataan “selamat” sebenarnya lebih pantas diucapkan dengan mulut disertai jabatan tangan : tapi karena waktu itu aku ketinggalan antri, maka pernyataan itu baru kini dapat kusampaikan melalui blog ini.
Banyaklah sudah aku mengenal pemimpin Amerika yang ulung; namun rasa kagumku hanya terpancang kepadamu. Bukan karena latar belakang historimu, pernah tinggal di Indonesia atau kau dari golongan minoritas Amerika. Bagiku visi-misi kampanyemu, membayangkan suatu lambaian kasih, mendamaikan dunia. Kau tawarkan new leadership of America, seolah aku terbang di pesawangan.
Dalam meghadapi masalah terorisme, perdamaian di Timur Tengah, Hambatan ekonomi global, dan serangan-serangan datang lainnya, kau hadapi dengan tenang tanpa meninggalkan adat budaya Amerika, walaupun dalam hati tak sepenuhnya aku percaya kepadamu, sebelum aku menerima apa yang ku harap.
Pesanku “Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah.” inilah harapanku kepadamu.
Sekali lagi kuucapkan “Selamat buat presiden baru, Barack Hussein Obama”
“Selamat Bary!!” “Good Luck!!”
sumber:www.asyiknyaduniakita.blogspot.com